Sejarah Pantai Kuta Bali - Biografi dan Sejarah

Our site moved here Sejarah dan Biografi

Sunday, December 20, 2015

Sejarah Pantai Kuta Bali


 Pergi ke Bali, jika tidak ke pantai kuta sepertinya ada yang kurang. Yup, sangat kurang bisa dikatakan seperti itu, pasalnya pantai kuta merupakan salah satu objek wisata unggulan di pulau dewata. Lihat saja bagi Anda yang pernah ke pantai ini, jarang sekali pantai ini terlihat sepi pengunjung. Sepinya Pantai Kuta hanya dapat dirasakan jika Bali sedang ada Perayaan Nyepi dan itu pun hanya dirayakan sekali dalam setahun. Selebihnya pantai kuta selalu didatangi oleh wisatawan domestic dan mancanegara. Nah,  yang menjadi pertanyaan sejak kapan pantai kuta ini mulai ramai oleh para pengunjung dan bagaimana sejarah dari Pantai Kuta Bali?  Pantai Kuta Dulunya Pelabuhan Dagang  Pantai Kuta Bali sebelum menjadi objek wisata seperti yang kita kenal sekarang, awalnya merupakan salah satu pelabuhan dagang di Pulau Bali yang menjadi pusat pemasaran hasil-hasil bumi masyarakat pedalaman dengan para pembeli dari luar. Dibukanya Pantai Kuta sebagai tempat berlabuh tak lepas dari peran Patih Gajahmada. Patih Gajahmada dan pasukannya dari kerajaan Majapahit pada sekitar abad-14 berlabuh di bagian selatan pantai kuta yang kini lebih di kenal dengan nama Tuban. Lantaran daerah ini cocok untuk tempat pelabuhan kapal, maka pelan-pelan kawasan ini berubah menjadi kota pelabuhan kecil, dimana para warga pun menyebut kawasan ini dengan nama Pantai Perahu. Pun pada abad ke-19, Mads Lange, seorang pedagang asal Denmark, menetap dan mendirikan markas dagang di Pantai Kuta. Menurut Horst Henry. Geerken, dalam Kesaksian Seorang Jerman di Indonesia 1963-1981, dari sini dia menjalankanperdagangan yang sukses dengan pulau-pulau tetangga dan kapten –kapten kapal nelayan Eropa. Melalui keterampilannya bernegosiasi, Mads Lange menjadi perantara perdagangan antara raja-raja di Bali dengan Belanda. Selain urusan perdagangan,Mads Lange juga melakukan upaya arbitrase antara Belanda dan kerajaan-kerajaan Bali untuk menghindari konflik militer.  Pada perkembangannya, Pantai Kuta Bali mulai kondang setelah Hugh Mahbett menerbitkan buku berjudul Pujian untuk Kuta. Buku tersebut berisi ajakan kepada masyarakat setempat untuk menyiapkan fasilitas pariwisata demi menunjang perkembangan kunjungan wisata ke Pantai Kuta. Melalui buku itu, wacana tentang pengembangan fasilitas pariwisata kian marak, sehingga pembangunan penginapan, restoran, maupun tempat-tempat hiburan makin meningkat.   Pantai Kuta   Lambat laut ketika modernisasi mulai melanda Pulau Dewata, dan atas saran dari beberapa pelaku pariwisata di Bali. Mereka me-refrensikan Pantai Kuta sebagai pusat pariwisata dari Bali. Hal ditandai dengan banyaknya bangunan hotel dan lokasinya dekat dengan Bandara yang telah di pindah dari Kabupaten Singaraja menuju Bali Selatan. Bangunan hotel di sana memiliki harga murah dan menyebabkan banyak wisatawan memilih untuk tinggal di Pantai Kuta.   Pantai Kuta Bali Angker   Namun tahukah Anda jika Pantai Kuta dulunya sangat angker? angker karena banyak kuburan yang terdapat di sepanjang Pantai Kuta. Penduduk lokal pun tak berani ke Pantai Kuta di saat malam. Tahun 1965-an hingga tahun 1970-an, Pantai Kuta masih amat sepi. Hanya ada satu dua wisatawan asing yang ada di pantai dan itu bisa dihitung dengan jari. Walaupun angker di tahun 1960 an, tak menghalangi para turis asing untuk berlaku bebas di pantai. Turis bisa bebas sebebasnya, bahkan bisa telanjang di pinggir pantai. Zaman itu dapat dilihat banyak turis telanjang di pinggiran pantai Kuta. Bahkan menurut Horst Henry Geerken, menjelang akhir tahun 1960-an, Kuta menjadi tempat bertemunya kaum hippies dari mancanegara, mariyuana, dan obat-obatan lain yang diual di setiap sudut. Namun setelah tahun 1970-an, turis sudah tidak bisa bebas lagi  karena mulai ada larangan-larangan seperti tidak boleh telanjang di pantai. Oleh karena adanya larangan-larangan, turis asing yang sudah terlanjur biasa bebas di Pantai Kuta mulai bergeser ke Pantai Legian, Seminyak, Camplung Tanduk, hingga ke Canggu untuk menyepi. Di pinggir pantai Kuta banyak tumbuh pohon kelapa, pohon kreket, pohon katang-katang, padanggalak, dan pandan. Pohon katang-katang berfungsi untuk menjaga pasir pantai agar tidak terbawa ombak saat pasang. Waktu itu hotel di Kuta juga tidak terlalu banyak, hanya ada penginapan-penginapan kecil milik penduduk lokal. Di sepanjang Pantai Kuta waktu itu masih terdapat perahu nelayan yang ditambatkan.  Pantai Kuta   Dalam sejarahnya hampir seluruh pantai di Bali dulunya adalah tempat pendaratan penyu. Seiring dengan perjalanan sang waktu, kini hanya tertinggal beberapa tempat saja yang dikunjung

Pergi ke Bali, jika tidak ke pantai kuta sepertinya ada yang kurang. Yup, sangat kurang bisa dikatakan seperti itu, pasalnya pantai kuta merupakan salah satu objek wisata unggulan di pulau dewata. Lihat saja bagi Anda yang pernah ke pantai ini, jarang sekali pantai ini terlihat sepi pengunjung. Sepinya Pantai Kuta hanya dapat dirasakan jika Bali sedang ada Perayaan Nyepi dan itu pun hanya dirayakan sekali dalam setahun. Selebihnya pantai kuta selalu didatangi oleh wisatawan domestic dan mancanegara. Nah,  yang menjadi pertanyaan sejak kapan pantai kuta ini mulai ramai oleh para pengunjung dan bagaimana sejarah dari Pantai Kuta Bali?

Pantai Kuta Dulunya Pelabuhan Dagang

Pantai Kuta Bali sebelum menjadi objek wisata seperti yang kita kenal sekarang, awalnya merupakan salah satu pelabuhan dagang di Pulau Bali yang menjadi pusat pemasaran hasil-hasil bumi masyarakat pedalaman dengan para pembeli dari luar. Dibukanya Pantai Kuta sebagai tempat berlabuh tak lepas dari peran Patih Gajahmada. Patih Gajahmada dan pasukannya dari kerajaan Majapahit pada sekitar abad-14 berlabuh di bagian selatan pantai kuta yang kini lebih di kenal dengan nama Tuban. Lantaran daerah ini cocok untuk tempat pelabuhan kapal, maka pelan-pelan kawasan ini berubah menjadi kota pelabuhan kecil, dimana para warga pun menyebut kawasan ini dengan nama Pantai Perahu. Pun pada abad ke-19, Mads Lange, seorang pedagang asal Denmark, menetap dan mendirikan markas dagang di Pantai Kuta. Menurut Horst Henry. Geerken, dalam Kesaksian Seorang Jerman di Indonesia 1963-1981, dari sini dia menjalankanperdagangan yang sukses dengan pulau-pulau tetangga dan kapten –kapten
kapal nelayan Eropa. Melalui keterampilannya bernegosiasi, Mads Lange menjadi perantara perdagangan antara raja-raja di Bali dengan Belanda. Selain urusan perdagangan,Mads Lange juga melakukan upaya arbitrase antara Belanda dan kerajaan-kerajaan Bali untuk menghindari konflik militer.

Pada perkembangannya, Pantai Kuta Bali mulai kondang setelah Hugh Mahbett menerbitkan buku berjudul Pujian untuk Kuta. Buku tersebut berisi ajakan kepada masyarakat setempat untuk menyiapkan fasilitas pariwisata demi menunjang perkembangan kunjungan wisata ke Pantai Kuta. Melalui buku itu, wacana tentang pengembangan fasilitas pariwisata kian marak, sehingga pembangunan penginapan, restoran, maupun tempat-tempat hiburan makin meningkat.



Pantai Kuta

Lambat laut ketika modernisasi mulai melanda Pulau Dewata, dan atas saran dari beberapa pelaku pariwisata di Bali. Mereka me-refrensikan Pantai Kuta sebagai pusat pariwisata dari Bali. Hal ditandai dengan banyaknya bangunan hotel dan lokasinya dekat dengan Bandara yang telah di pindah dari Kabupaten Singaraja menuju Bali Selatan. Bangunan hotel di sana memiliki harga murah dan menyebabkan banyak wisatawan memilih untuk tinggal di Pantai Kuta.

Pantai Kuta Bali Angker

Namun tahukah Anda jika Pantai Kuta dulunya sangat angker? angker karena banyak kuburan yang terdapat di sepanjang Pantai Kuta. Penduduk lokal pun tak berani ke Pantai Kuta di saat malam. Tahun 1965-an hingga tahun 1970-an, Pantai Kuta masih amat sepi. Hanya ada satu dua wisatawan asing yang ada di pantai dan itu bisa dihitung dengan jari. Walaupun angker di tahun 1960 an, tak menghalangi para turis asing untuk berlaku bebas di pantai. Turis bisa bebas sebebasnya, bahkan bisa telanjang di pinggir pantai. Zaman itu dapat dilihat banyak turis telanjang di pinggiran pantai Kuta. Bahkan menurut Horst Henry Geerken, menjelang akhir tahun 1960-an, Kuta menjadi tempat
bertemunya kaum hippies dari mancanegara, mariyuana, dan obat-obatan lain yang diual di setiap sudut. Namun setelah tahun 1970-an, turis sudah tidak bisa bebas lagi

karena mulai ada larangan-larangan seperti tidak boleh telanjang di pantai. Oleh karena adanya larangan-larangan, turis asing yang sudah terlanjur biasa bebas di Pantai Kuta mulai bergeser ke Pantai Legian, Seminyak, Camplung Tanduk, hingga ke Canggu untuk menyepi. Di pinggir pantai Kuta banyak tumbuh pohon kelapa, pohon kreket, pohon katang-katang, padanggalak, dan pandan. Pohon katang-katang berfungsi untuk menjaga pasir pantai agar tidak terbawa ombak saat pasang. Waktu itu hotel di Kuta juga tidak terlalu banyak, hanya ada penginapan-penginapan kecil milik penduduk lokal. Di sepanjang Pantai Kuta waktu itu masih terdapat perahu nelayan yang ditambatkan.

Pantai Kuta


Dalam sejarahnya hampir seluruh pantai di Bali dulunya adalah tempat pendaratan penyu. Seiring dengan perjalanan sang waktu, kini hanya tertinggal beberapa tempat saja yang dikunjungi penyu untuk bertelur, dan salah satunya adalah Pantai Kuta. Kini Pantai Kuta bukan hanya ramai dikunjungi wisatawan namun juga ramai dikunjungi penyu untuk bertelur. Hal ini sangat mengejutkan dengan melihat kondisi Pantai Kuta yang kini telah sesak dengan banyaknya bangunan hotel. Penyu yang mendarat di Pantai Kuta adalah jenis penyu lekan

Di Bali rasanya mau ke tempat wisata apapun serba ada, mulai dari wisata pantai, gunung, danau, kebun binatang, sampai wisata reliji ke pura-pura. Pura Taman Ayu merupakan pura yang cukup terkenal di Bali dan sering dijadikan sebagai objek wisata selain tempat beribadah umat Hindu Bali, tentunya. Ribuan pura mengisi daratan Bali

dengan sangat kokohnya. Makanya Bali pantas mendapatkan julukan Pulau Seribu Pura. Pura merupakan tempat sakral, suci, diagungkan oleh kalangan umat Hindu Bali. Pura Bali ialah manifestasi dari keyakinan dan keimanan warga Bali yang mayoritas beragama Hindu. Pura Bali merupakan rumah kedua warga Bali setelah rumahnya sendiri, dimana mereka akan berduyun-duyun mendatangi pura ketika momen-momen suci tiba. Selain untuk keperluan religi bagi umat hindu, kehadiran pura juga memiliki dimensi wisata serta dimensi ritual buadaya. Maka dari itu, sobat Sharing di Sini akan berbagi informasi mengenai pura-pura yang ada di Bali dan layak untuk dikunjungi.

5 Pura Bali yang Patut Anda Datangi


Pura Uluwatu


Eksistensi Pura Uluwatu memiliki nilai yang luhung bagi masyarakat Bali yang terkenal begitu religius. Lingkungan pura Uluwatu sendiri konon telah berdiri sejak sekitar abad ke-11, yang menurut perhitungan kuno seusia dengan seorang empu terkenal bernama Empu Kuturan yang mendirikan pelinggih di lingkungan Pura Besakih. Yang kemudian tempat tersebut dipilih oleh Pendeta Dahyang Nirarta untuk mencapai moksa dan menapaki hakikat kesucian jiwa yang bersih dari noktah dan dosa. Pura ini merupakan Pura Sad Kahyangan yang dipercaya oleh masyarakat Hindu Bali sebagai penyangga dari 9 mata angin. Pura Uluwatu memiliki beberapa pura pesanakan. Maksudnya yakni pura yang sangat erat kaitannya dengan pura induk. Pura pesanakan itu yakni Pura Bajurit, Pura Kulat, Pura Pererepan, Pura Dalem Pangleburan, dan Pura Dalem Selonding. Dimana masing-masing pura tersebut memiliki kaitan dengan Pura Uluwatu, terutama pada hari piodalannya. Uluwatu termasuk wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Daerah tersebut jika ditempuh dari Denpasar kurang lebih 30 km ke arah Selatan lewat kawasan pariwisata Kuta, Bandara Ngurah Rai Tuban dan Desa Jimbaran.

Pura Tanah Lot

Nama Tanah Lot tentunya tak asing bagi para wisatawan yang telah berulang kali datang ke Bali. Jangankan yang telah datang berulang kali, masyarakat yang berada di luar wilayah Bali pun sudah sering mendengar nama objek wisata sangat indah ini entah dari televisi, koran, internet, cerita teman, dsb. Tanah Lot memang menyajikan keindahan alam yang menakjubkan yang sulit untuk menemukan tandingannya. Di Tanah Lot ada bangunan pura yang didirikan pada abad ke-15 M dimasa Pedanda Bawu Rawuh atau Danghyang Nirartha yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Ketika itu, penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben dikabarkan iri terhadap kesaktian Danghyang Nirartha yang mampu menaklukkan dan membuat simpati masyarakat Bali. Lantas Bendesa Beraben menyuruh Danghyang Nirirtha untuk meninggalkan tanah Bali. Beliau pun menyanggupi, namun sebelum ia meninggalkan Tanah Lot, dengan kekuatan dan kekuasaannya ia memindahkan sebuah bongkahan batu besar ke tengah pantai dan membangun pura disana. Danghyang Nirirtha juga merubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Sampai kinipun ular- tersebut masih ada, dimana secara ilmiah ular tersebut termasuk ular laut yang memiliki ciri-ciri fisik seperti berekor pipih aiknya ikan, berwarna hitam dan memiliki belang kuning di tubuhnya, serta racunnya yang tiga kali lebih mematikan dibandingkan racunnya ular kobra. Keindahan pura ini tak terlukiskan karena pura ini terletak di tengah laut atau terpisah dari daratan. Di sekitar pura ini terdapat beberapa pura lainnya yang berukuran lebih kecil, diantaranya adalah pura Pekendungan. Dibagian barat terdapat mata air tawar yang dianggap suci oleh Umat Hindu. Sementara dibagian bawahnya
terdapat beberapa gua dimana didalamnya hidup banyak ular berukuran besar, sedang maupun kecil dengan aneka warna. Meski demikian ular-ular tersebut tak berbahaya apabila tidak diganggu oleh pengunjung yang datang. Kalau air laut surut maka pengunjung bisa langsung mendatangi pura untuk bersembahyang atau sekadar menikmati keindahan pantai. Namun kalau air laut sedang pasang, maka pura akan nampak seperti perahu yang terapung diatas air.

Pura Srijong

Pura Srijong memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan pura-pura lainnya di Bali. Letaknya yang berada di bibir pantai yang dikelilingi oleh pepohonan soka dan semak-semak membuat pura ini memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka yang mengunjunginya. Bukan hanya itu, aura mistis nan mengandung kekuatan magis pun begitu kuat terasa ketika berada di sekitar Pura Srijong. Kawasan Pura Srijong termasuk areal yang sangat dijaga kesucian dan kelestariannya karena nilai histori serta kesakralan yang dimiliki oleh pura ini, maka patutlah menjadi pertimbangan tujuan wisata bagi Anda penggemar sejarah serta bentuk arsitektur Bali nan indah. Pura Srijong berada di Desa Soka Batu Lumbang, Kecamatan Bajera, Kabupaten Tabanan, Bali.

Pura Dalem Balingkang


Pura Dalem Balingkang dikenal memiliki keunikan tersendiri karena terdapatnya ornamen uang kepeng dan interiornya. Terlebih bangunan pura ini juga sangat mirip dengan bentuk pagoda, dimana hal ini sangat terkait dengan proses akulturasi budaya dengan Tionghoa yang akan dijelaskan berikutnya. Pura Dalem Balingkang juga dulunya difungsikan sebagai istana raja keturunan Raja Sri Jaya Pagus. Yang menarik ialah keberadaan Palinggih Ratu Ayu Subandar yang didominasi dengan warna mencolok; merah
dan kuning. Tahukah Anda bahwa kedua warna itu sangat khas dengan warna pada bangunan tempat peribadatan masyarakat Tionghoa, Wihara. Yang berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada Kang Cing Wie yang diyakini banyak membawa berkah. Pura Hindu di Bali dipengaruhi oleh unsur-unsur Tionghoa, karena adanya proses akulturasibudaya antara kebudayaan Bali dengan budaya Tionghoa.

Pura Langgar / Pura Dalem Jawa 
Bali sekalipun mayoritas masyarakatnya beragama Hindu namun kerukunan dan kedamaian antar-umat bera gama berjalan dengan baik. Mereka yang memiliki keyakinan yang berbeda hidup secara berdampingan dan jarang sekali adanya percekcokan diantara mereka. Apakah ada buktinya? Salah satunya bisa dilihat dengan adanya sebuah pura yang bernama Pura Langgar atau juga dikenal dengan Pura Dalem Jawa. Mengapa sampai disebut pura Langgar? Tiada lain dan tiada bukan karena bangunannya yang mirip dengan sebuah Langgar atau tempat ibadahnya umat Muslim. Pura ini juga memiliki cerita dan bentuk yang unik yang sangat erat kaitannya dengan kebudayaan Islam yang masuk ke Bali sehingga sedikit banyak mampu memengaruhi gaya arsitektur dan segala pernak-pernik pura ini. Pura Langgar sendiri dibangun diatas kolam yang dipenuhi oleh bunga teratai.

Load disqus comments

0 komentar