Asal Usul dan Filosofi Toga - Biografi dan Sejarah

Our site moved here Sejarah dan Biografi

Monday, February 1, 2016

Asal Usul dan Filosofi Toga

 Di Indonesia, secara umum kostum kelulusan disebut toga - berasal dari penyebutan untuk pakaian di jaman Romawi kuno. Pada masa tersebut, kaum intelektual kerap  memakai kain panjang (kira-kira 6 meter) yang dibalut sedemikian rupa, sehingga membentuk kostum. Bedanya dengan pakaian biasa, toga tidak dijahit. Di negeri barat, kostum kelulusan hanya disebut gown. Sementara topi berbentuk bujur sangkar disebut mortarboard. Ada juga yang menyebutnya "graduate cap" dan "black cap". Toga berasal dari kata “tego”, yang dalam bahasa Latin artinya adalah “penutup”. Meski sering dikaitkan dengan bangsa Romawi kuno, toga sebenarnya merupakan pakaian  yang sering dikenakan bangsa Etruskan (pribumi Italia) sejak 1.200 SM. Kala itu, bentuk toga belum berupa jubah, tetapi hanya berupa kain sepanjang 6 meter yang cara  pakainya dililitkan ke tubuh. Meski tidak praktis, toga merupakan satu-satunya pakaian yang dianggap pantas saat seseorang berada di luar ruangan.  Namun seiring berjalannya waktu, pemakaian toga untuk busana sehari-hari mulai ditinggalkan. Setelah bentuknya “dimodifikasi” menjadi semacam jubah, derajat toga justru  naik menjadi pakaian seremonial, tahukah kamu, salah satunya sebagai pakaian wisuda, Toga yang berwarna hitam pun bukan tanpa alasan. Seperti yang kita tahu, hitam sering diidentikkan dengan hal yang misterius dan gelap. Nah, misteri dan kegelapan inilah  yang harus dikalahkan oleh sarjana. Dengan memakai warna hitam, diharapkan para sarjana mampu menyibak “kegelapan” dengan ilmu pengetahuan yang selama ini  didapatkan. Selain itu, warna hitam juga melambangan keagungan. Karena itu, selain sarjana, baik hakim dan sebagian pemuka agama juga menggunakan warna hitam ini sebagai jubahnya.  Lalu, apa makna dari bentuk persegi pada topi toga, ya? Nah, sudut-sudut tersebut melambangkan bahwa seorang sarjana dituntut utnuk berpikir rasional dan memandang segala sesuatu dari berbagai sudut pandang. Jangan sampai status sudah sarjana tetapi pikirannya masih sempit. Di puncak acara wisuda, kita mungkin bertanya-tanya, kenapa ya kucir tali yang ada di topi toga dipindah dari kiri ke kanan? Tahukah kamu, kucir tali topi toga yang semula  berada di kiri ternyata bermakna lebih banyaknya otak kiri yang digunakan semasa kuliah. Nah, dengan dipindahkannya kucir tali topi toga dari kiri ke kanan, maksudnya adalah agar para sarjana tidak hanya menggunakan otak kiri saja setelah lulus, tetapi juga menggunakan otak kanan yang berhubungan dengan kreativitas, imajinasi, dan inovasi.  Banyak peneliti meyakini mortarboard merupakan pengembangan dari biretta, yakni topi yang dikenakan oleh pendeta Katolik Roma. Biretta sendiri terinspirasi dari bahasa Italia "berretto"

Di Indonesia, secara umum kostum kelulusan disebut toga - berasal dari penyebutan untuk pakaian di jaman Romawi kuno. Pada masa tersebut, kaum intelektual kerap  memakai kain panjang (kira-kira 6 meter) yang dibalut sedemikian rupa, sehingga membentuk kostum. Bedanya dengan pakaian biasa, toga tidak dijahit. Di negeri barat, kostum kelulusan hanya disebut gown. Sementara topi berbentuk bujur sangkar disebut mortarboard. Ada juga yang menyebutnya "graduate cap" dan "black cap". Toga berasal dari kata “tego”, yang dalam bahasa Latin artinya adalah “penutup”. Meski sering dikaitkan dengan bangsa Romawi kuno, toga sebenarnya merupakan pakaian  yang sering dikenakan bangsa Etruskan (pribumi Italia) sejak 1.200 SM. Kala itu, bentuk toga belum berupa jubah, tetapi hanya berupa kain sepanjang 6 meter yang cara  pakainya dililitkan ke tubuh. Meski tidak praktis, toga merupakan satu-satunya pakaian yang dianggap pantas saat seseorang berada di luar ruangan.



Namun seiring berjalannya waktu, pemakaian toga untuk busana sehari-hari mulai ditinggalkan. Setelah bentuknya “dimodifikasi” menjadi semacam jubah, derajat toga justru  naik menjadi pakaian seremonial, tahukah kamu, salah satunya sebagai pakaian wisuda, Toga yang berwarna hitam pun bukan tanpa alasan. Seperti yang kita tahu, hitam sering diidentikkan dengan hal yang misterius dan gelap. Nah, misteri dan kegelapan inilah  yang harus dikalahkan oleh sarjana. Dengan memakai warna hitam, diharapkan para sarjana mampu menyibak “kegelapan” dengan ilmu pengetahuan yang selama ini  didapatkan. Selain itu, warna hitam juga melambangan keagungan. Karena itu, selain sarjana, baik hakim dan sebagian pemuka agama juga menggunakan warna hitam ini sebagai jubahnya.

Di Indonesia, secara umum kostum kelulusan disebut toga - berasal dari penyebutan untuk pakaian di jaman Romawi kuno. Pada masa tersebut, kaum intelektual kerap  memakai kain panjang (kira-kira 6 meter) yang dibalut sedemikian rupa, sehingga membentuk kostum. Bedanya dengan pakaian biasa, toga tidak dijahit. Di negeri barat, kostum kelulusan hanya disebut gown. Sementara topi berbentuk bujur sangkar disebut mortarboard. Ada juga yang menyebutnya "graduate cap" dan "black cap". Toga berasal dari kata “tego”, yang dalam bahasa Latin artinya adalah “penutup”. Meski sering dikaitkan dengan bangsa Romawi kuno, toga sebenarnya merupakan pakaian  yang sering dikenakan bangsa Etruskan (pribumi Italia) sejak 1.200 SM. Kala itu, bentuk toga belum berupa jubah, tetapi hanya berupa kain sepanjang 6 meter yang cara  pakainya dililitkan ke tubuh. Meski tidak praktis, toga merupakan satu-satunya pakaian yang dianggap pantas saat seseorang berada di luar ruangan.  Namun seiring berjalannya waktu, pemakaian toga untuk busana sehari-hari mulai ditinggalkan. Setelah bentuknya “dimodifikasi” menjadi semacam jubah, derajat toga justru  naik menjadi pakaian seremonial, tahukah kamu, salah satunya sebagai pakaian wisuda, Toga yang berwarna hitam pun bukan tanpa alasan. Seperti yang kita tahu, hitam sering diidentikkan dengan hal yang misterius dan gelap. Nah, misteri dan kegelapan inilah  yang harus dikalahkan oleh sarjana. Dengan memakai warna hitam, diharapkan para sarjana mampu menyibak “kegelapan” dengan ilmu pengetahuan yang selama ini  didapatkan. Selain itu, warna hitam juga melambangan keagungan. Karena itu, selain sarjana, baik hakim dan sebagian pemuka agama juga menggunakan warna hitam ini sebagai jubahnya.  Lalu, apa makna dari bentuk persegi pada topi toga, ya? Nah, sudut-sudut tersebut melambangkan bahwa seorang sarjana dituntut utnuk berpikir rasional dan memandang segala sesuatu dari berbagai sudut pandang. Jangan sampai status sudah sarjana tetapi pikirannya masih sempit. Di puncak acara wisuda, kita mungkin bertanya-tanya, kenapa ya kucir tali yang ada di topi toga dipindah dari kiri ke kanan? Tahukah kamu, kucir tali topi toga yang semula  berada di kiri ternyata bermakna lebih banyaknya otak kiri yang digunakan semasa kuliah. Nah, dengan dipindahkannya kucir tali topi toga dari kiri ke kanan, maksudnya adalah agar para sarjana tidak hanya menggunakan otak kiri saja setelah lulus, tetapi juga menggunakan otak kanan yang berhubungan dengan kreativitas, imajinasi, dan inovasi.  Banyak peneliti meyakini mortarboard merupakan pengembangan dari biretta, yakni topi yang dikenakan oleh pendeta Katolik Roma. Biretta sendiri terinspirasi dari bahasa Italia "berretto"

Lalu, apa makna dari bentuk persegi pada topi toga, ya? Nah, sudut-sudut tersebut melambangkan bahwa seorang sarjana dituntut utnuk berpikir rasional dan memandang segala sesuatu dari berbagai sudut pandang. Jangan sampai status sudah sarjana tetapi pikirannya masih sempit. Di puncak acara wisuda, kita mungkin bertanya-tanya, kenapa ya kucir tali yang ada di topi toga dipindah dari kiri ke kanan? Tahukah kamu, kucir tali topi toga yang semula  berada di kiri ternyata bermakna lebih banyaknya otak kiri yang digunakan semasa kuliah. Nah, dengan dipindahkannya kucir tali topi toga dari kiri ke kanan, maksudnya adalah agar para sarjana tidak hanya menggunakan otak kiri saja setelah lulus, tetapi juga menggunakan otak kanan yang berhubungan dengan kreativitas, imajinasi, dan inovasi.

Banyak peneliti meyakini mortarboard merupakan pengembangan dari biretta, yakni topi yang dikenakan oleh pendeta Katolik Roma. Biretta sendiri terinspirasi dari bahasa Italia "berretto" (berasal dari kata latin "birrus" dan Yunani "pyrros"). Di jaman Romawi sekitar abad 12 hingga 14, berretto sebagai ciri bagi kalangan pelajar akademik, seniman, dan humanis.

Walau demikian, paten mortarboard justru menjadi milik penemu dari Amerika Serikat, Edward O' Reilly dan imam Katolik, Joseph Durham di tahun 1950. Mungkin karena dibentuk bujursangkar, serta penambahan komponen seperti besi di dalam mortarboard sehingga lebih kokoh. Nyatanya, tak semua mortarboard dewasa ini memakai besi di dalamnya.

Sejak disahkannya paten tersebut, mortarboard dengan bentuk seperti yang kita lihat dewasa ini menjadi umum di seluas dunia.  Penambahan komponen tali pada mortarboard pun diduga berasal dari tradisi orang Amerika. Di negara tersebut, semua jenis kelulusan dari tingkat sekolah dasar hingga SMA serta Universitas selalu memakai "gown" dan "mortarboard".

Di Indonesia, secara umum kostum kelulusan disebut toga - berasal dari penyebutan untuk pakaian di jaman Romawi kuno. Pada masa tersebut, kaum intelektual kerap  memakai kain panjang (kira-kira 6 meter) yang dibalut sedemikian rupa, sehingga membentuk kostum. Bedanya dengan pakaian biasa, toga tidak dijahit. Di negeri barat, kostum kelulusan hanya disebut gown. Sementara topi berbentuk bujur sangkar disebut mortarboard. Ada juga yang menyebutnya "graduate cap" dan "black cap". Toga berasal dari kata “tego”, yang dalam bahasa Latin artinya adalah “penutup”. Meski sering dikaitkan dengan bangsa Romawi kuno, toga sebenarnya merupakan pakaian  yang sering dikenakan bangsa Etruskan (pribumi Italia) sejak 1.200 SM. Kala itu, bentuk toga belum berupa jubah, tetapi hanya berupa kain sepanjang 6 meter yang cara  pakainya dililitkan ke tubuh. Meski tidak praktis, toga merupakan satu-satunya pakaian yang dianggap pantas saat seseorang berada di luar ruangan.  Namun seiring berjalannya waktu, pemakaian toga untuk busana sehari-hari mulai ditinggalkan. Setelah bentuknya “dimodifikasi” menjadi semacam jubah, derajat toga justru  naik menjadi pakaian seremonial, tahukah kamu, salah satunya sebagai pakaian wisuda, Toga yang berwarna hitam pun bukan tanpa alasan. Seperti yang kita tahu, hitam sering diidentikkan dengan hal yang misterius dan gelap. Nah, misteri dan kegelapan inilah  yang harus dikalahkan oleh sarjana. Dengan memakai warna hitam, diharapkan para sarjana mampu menyibak “kegelapan” dengan ilmu pengetahuan yang selama ini  didapatkan. Selain itu, warna hitam juga melambangan keagungan. Karena itu, selain sarjana, baik hakim dan sebagian pemuka agama juga menggunakan warna hitam ini sebagai jubahnya.  Lalu, apa makna dari bentuk persegi pada topi toga, ya? Nah, sudut-sudut tersebut melambangkan bahwa seorang sarjana dituntut utnuk berpikir rasional dan memandang segala sesuatu dari berbagai sudut pandang. Jangan sampai status sudah sarjana tetapi pikirannya masih sempit. Di puncak acara wisuda, kita mungkin bertanya-tanya, kenapa ya kucir tali yang ada di topi toga dipindah dari kiri ke kanan? Tahukah kamu, kucir tali topi toga yang semula  berada di kiri ternyata bermakna lebih banyaknya otak kiri yang digunakan semasa kuliah. Nah, dengan dipindahkannya kucir tali topi toga dari kiri ke kanan, maksudnya adalah agar para sarjana tidak hanya menggunakan otak kiri saja setelah lulus, tetapi juga menggunakan otak kanan yang berhubungan dengan kreativitas, imajinasi, dan inovasi.  Banyak peneliti meyakini mortarboard merupakan pengembangan dari biretta, yakni topi yang dikenakan oleh pendeta Katolik Roma. Biretta sendiri terinspirasi dari bahasa Italia "berretto"

Bila di Indonesia hanya dikenal warna hitam, tidak demikian dengan Amerika Serikat. Di sana, setiap jurusan memiliki warna berbeda. Misalnya Engineering memakai warna  oranye, Law (hukum) memakai warna ungu, dan sebagainya.  Tali pada mortarboard disebut juga dengan "tassel". Tidak semua tingkatan pendidikan di Amerika Serikat selalu memindahkan tassel dari kiri ke kanan, walau tassel menjadi aksesoris penting pada mortarboard. Misalnya, untuk mahasiswa pascasarjana (S2) selalu membiarkan tassel di sisi kiri.

Warna tassel pun banyak ragamnya. Pada tingkat Senior High (sebanding SMA) warna tassel terdiri dari tiga warna, salah satu menjadi warna sekolah tersebut (color identity). Lalu di tingkat sekolah tinggi, mahasiswa yang lulus dengan gelar cum laude mengenakan tassel berwarna emas. Mengapa pada kebanyakan upacara kelulusan (wisuda) tassel sering dipindahkan dari sisi kiri ke sisi kanan Banyak pendapat mengenai ini, tanpa ada dasar yang pasti. Ada pendapat menyebutkan, pemindahan ini mengartikan bahwa seorang mahasiswa saat masih belajar di universitas selalu menggunakan otak kiri. Maka, setelah lulus pemindahan tassel ke sisi kanan dengan harapan saat terjun ke masyarakat, siswa tersebut juga menggunakan otak kanan.Sementara pendapat lain - umum dipercaya masyarakat barat - menyebutkan ini hanya prosesi biasa. Ada perbedaan di sini, tassel awalnya menggantung di sisi kanan. Ini artinya siswa masih berstatus candidate (calon kelulusan), dan ketika dipindahkan ke sisi kiri artinya sudah graduate (lulus).
Load disqus comments

0 komentar