Sunday, March 20, 2016

Kisah Sunan Kalijaga

Visit Pusat Bet

Kisah Sunan Kalijaga  Tokoh yang satu ini sangat kontroversial pada zamannya, ia seorang anak dari Adipati Tuban yaitu Aria Wilatikta, ia di usir oleh ayahnya sendiri karena mencoba menentang gaya kepemimpinan ayahnya yang tidak berpihak ke pada rakyat. Bernama asli raden said atau joko said, sedangkan nama kalijaga banyak yang mengatakan di ambil dari nama sungai yang sering di kunjunginya yaitu kali jaga, namun aja juga yang mengatakan kalijaga adalah serapan dari bahasa arab yaitu Qodli Zaka, yang artinya penghulu suci atau hakim suci.  Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di  Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di  Kadilangu, Demak.  Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa  akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga  Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan  Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal"  (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.                                                  Sunan Kalijaga diperkirakan

Tokoh yang satu ini sangat kontroversial pada zamannya, ia seorang anak dari Adipati Tuban yaitu Aria Wilatikta, ia di usir oleh ayahnya sendiri karena mencoba menentang gaya kepemimpinan ayahnya yang tidak berpihak ke pada rakyat. Bernama asli raden said atau joko said, sedangkan nama kalijaga banyak yang mengatakan di ambil dari nama sungai yang sering di kunjunginya yaitu kali jaga, namun aja juga yang mengatakan kalijaga adalah serapan dari bahasa arab yaitu Qodli Zaka, yang artinya penghulu suci atau hakim suci.


Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di  Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di  Kadilangu, Demak.

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa  akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga  Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan  Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal"  (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.


                                             Kisah Sunan Kalijaga  Tokoh yang satu ini sangat kontroversial pada zamannya, ia seorang anak dari Adipati Tuban yaitu Aria Wilatikta, ia di usir oleh ayahnya sendiri karena mencoba menentang gaya kepemimpinan ayahnya yang tidak berpihak ke pada rakyat. Bernama asli raden said atau joko said, sedangkan nama kalijaga banyak yang mengatakan di ambil dari nama sungai yang sering di kunjunginya yaitu kali jaga, namun aja juga yang mengatakan kalijaga adalah serapan dari bahasa arab yaitu Qodli Zaka, yang artinya penghulu suci atau hakim suci.  Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di  Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di  Kadilangu, Demak.  Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa  akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga  Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan  Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal"  (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.                                                  Sunan Kalijaga diperkirakan

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati  Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain  Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat  Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana,  dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.

Mengenai asal usul beliau, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa beliau juga masih keturunan  Arab. Tapi, banyak pula yang menyatakan ia orang Jawa asli. Van Den Berg menyatakan bahwa Sunan  Kalijaga adalah keturunan Arab yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.  Sementara itu menurut Babad Tuban menyatakan bahwa Aria Teja alias 'Abdul Rahman berhasil mengislamkan  Adipati Tuban, 

Aria Dikara, dan mengawini putrinya. Dari perkawinan ini ia memiliki putra bernama Aria  Wilatikta. Menurut catatan Tome Pires, penguasa Tuban pada tahun 1500 M adalah cucu dari peguasa Islam pertama di Tuban. Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said adalah putra Aria Wilatikta. Sejarawan lain  seperti De Graaf membenarkan bahwa Aria Teja I ('Abdul Rahman) memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas,  paman Muhammad. Sunan Kalijaga mempunyai tiga anak salah satunya adalah Umar Said atau Sunan Muria.

Kisah Sunan Kalijaga  Tokoh yang satu ini sangat kontroversial pada zamannya, ia seorang anak dari Adipati Tuban yaitu Aria Wilatikta, ia di usir oleh ayahnya sendiri karena mencoba menentang gaya kepemimpinan ayahnya yang tidak berpihak ke pada rakyat. Bernama asli raden said atau joko said, sedangkan nama kalijaga banyak yang mengatakan di ambil dari nama sungai yang sering di kunjunginya yaitu kali jaga, namun aja juga yang mengatakan kalijaga adalah serapan dari bahasa arab yaitu Qodli Zaka, yang artinya penghulu suci atau hakim suci.  Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di  Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di  Kadilangu, Demak.  Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa  akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga  Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan  Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal"  (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.                                                  Sunan Kalijaga diperkirakan

Raden Said dilahirkan sekitar tahun 1450 M. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban. Arya Wilatikta ini adalah keturunan dari pemberontak legendaris Majapahit, Ronggolawe. Riwayat masyhur  mengatakan bahwa Adipati Arya Wilatikta sudah memeluk Islam sejak sebelum lahirnya Raden Said. Namun  sebagai Muslim, ia dikenal kejam dan sangat taklid kepada pemerintahan pusat Majapahit yang menganut  Agama Hindu. Ia menetapkan pajak tinggi kepada rakyat. Raden Said muda yang tidak setuju pada segala  kebijakan Ayahnya sebagai Adipati sering membangkang pada kebijakan-kebijakan ayahnya.

Pembangkangan  Raden Said kepada ayahnya mencapai puncaknya saat ia membongkar lumbung kadipaten dan membagi-bagikan  padi dari dalam lumbung kepada rakyat Tuban yang saat itu dalam keadaan kelaparan akibat kemarau panjang. Karena tindakannya itu, Ayahnya kemudian ‘menggelar sidang’ untuk mengadili Raden Said dan menanyakan  alasan perbuatannya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Raden Said untuk mengatakan pada ayahnya  bahwa, karena alasan ajaran agama, ia sangat menentang kebijakan ayahnya untuk menumpuk makanan di  dalam lumbung sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. 

Ayahnya tidak dapat menerima alasannya ini karena menganggap Raden Said ingin mengguruinya dalam  masalah agama. Karena itu, Ayahnya kemudian mengusirnya keluar dari istana kadipaten seraya mengatakan  bahwa ia baru boleh pulang jika sudah mampu menggetarkan seisi Tuban dengan bacaan ayat-ayat suci Al  Qur’an. Maksud dari ‘menggetarkan seisi Tuban’ di sini ialah bilamana ia sudah memiliki banyak ilmu  agama dan dikenal luas masyarakat karena ilmunya.

Kisah Sunan Kalijaga  Tokoh yang satu ini sangat kontroversial pada zamannya, ia seorang anak dari Adipati Tuban yaitu Aria Wilatikta, ia di usir oleh ayahnya sendiri karena mencoba menentang gaya kepemimpinan ayahnya yang tidak berpihak ke pada rakyat. Bernama asli raden said atau joko said, sedangkan nama kalijaga banyak yang mengatakan di ambil dari nama sungai yang sering di kunjunginya yaitu kali jaga, namun aja juga yang mengatakan kalijaga adalah serapan dari bahasa arab yaitu Qodli Zaka, yang artinya penghulu suci atau hakim suci.  Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di  Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di  Kadilangu, Demak.  Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa  akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga  Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan  Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal"  (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.                                                  Sunan Kalijaga diperkirakan

Riwayat masyhur kemudian menceritakan bahwa setelah diusir dari istana kadipaten, Raden Said berubah  menjadi seorang perampok yang terkenal dan ditakuti di kawasan Jawa Timur. Sebagai Perampok, Raden Said  selalu ‘memilih’ korbannya dengan seksama. Ia hanya merampok orang kaya yang tak mau mengeluarkan zakat  dan sedekah.

Dari hasil rampokannya itu, sebagian besarnya selalu ia bagi-bagikan kepada orang miskin. Kisah ini mungkin mirip dengan cerita Robin Hood di Inggris. Namun itulah riwayat masyhur tentang beliau.  Diperkirakan saat menjadi perampok inilah, ia diberi gelar ‘Lokajaya’ artinya kurang lebih ‘Perampok  Budiman’.

Semuanya berubah saat Lokajaya alias Raden Said bertemu dengan seorang ulama, Syekh Maulana Makhdum  Ibrahim alias Sunan Bonang. Sunan Bonang inilah yang kemudian mernyadarkannya bahwa perbuatan baik tak  dapat diawali dengan perbuatan buruk – sesuatu yang haq tak dapat dicampuradukkan dengan sesuatu yang  batil- sehingga Raden Said alias Lokajaya bertobat dan berhenti menjadi perampok. Raden Said kemudian  berguru kepada Sunan Bonang hingga akhirnya dikenal sebagai ulama dengan gelar ‘Sunan Kalijaga’.

Kisah Sunan Kalijaga  Tokoh yang satu ini sangat kontroversial pada zamannya, ia seorang anak dari Adipati Tuban yaitu Aria Wilatikta, ia di usir oleh ayahnya sendiri karena mencoba menentang gaya kepemimpinan ayahnya yang tidak berpihak ke pada rakyat. Bernama asli raden said atau joko said, sedangkan nama kalijaga banyak yang mengatakan di ambil dari nama sungai yang sering di kunjunginya yaitu kali jaga, namun aja juga yang mengatakan kalijaga adalah serapan dari bahasa arab yaitu Qodli Zaka, yang artinya penghulu suci atau hakim suci.  Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di  Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di  Kadilangu, Demak.  Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa  akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga  Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan  Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal"  (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.                                                  Sunan Kalijaga diperkirakan

Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke Sungai. Raden Said berkata bahwa ingin menjadi muridnya. Sunan  Bonang lalu menyuruh Raden Said untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tepi  sungai. Raden Said tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang. Raden Said  lalu melaksanakan perintah tersebut. Karena itu,ia menjadi tertidur dalam waktu lama. Karena lamanya ia  tertidur, tanpa disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya. Tiga tahun kemudian, 

Sunan Bonang  datang dan membangunkan Raden Said. Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditanjapkan ke sungai, maka  Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga. Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran  agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.


Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham  keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga  memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Kisah Sunan Kalijaga  Tokoh yang satu ini sangat kontroversial pada zamannya, ia seorang anak dari Adipati Tuban yaitu Aria Wilatikta, ia di usir oleh ayahnya sendiri karena mencoba menentang gaya kepemimpinan ayahnya yang tidak berpihak ke pada rakyat. Bernama asli raden said atau joko said, sedangkan nama kalijaga banyak yang mengatakan di ambil dari nama sungai yang sering di kunjunginya yaitu kali jaga, namun aja juga yang mengatakan kalijaga adalah serapan dari bahasa arab yaitu Qodli Zaka, yang artinya penghulu suci atau hakim suci.  Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di  Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di  Kadilangu, Demak.  Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa  akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga  Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan  Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal"  (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.                                                  Sunan Kalijaga diperkirakan

Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga  berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan,  Ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam.

Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer  adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Dialah menggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg  maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat  kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan  Kalijaga.

Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang. Ketika wafat, beliau dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara). Makam ini hingga  sekarang masih ramai diziarahi orang.

Load disqus comments

0 komentar