Biografi David Setiabudi (Pengusaha Gamer dari Indonesia) - Biografi dan Sejarah

Our site moved here Sejarah dan Biografi

Sunday, April 10, 2016

Biografi David Setiabudi (Pengusaha Gamer dari Indonesia)


Biografi David Setiabudi (Pengusaha Gamer dari Indonesia)   Bagi Pak David Setiabudi, membuat game komputer adalah obsesinya sejak duduk di SMA. Ternyata, pilihannya itu sukses membuatnya diganjar rekor Museum Rekor Indonesia pada 2004 ketika ia merilis game KuisKata, game resmi Indonesia pertama yang dirilis ke publik dengan menampilkan bahasa dan karakter asli Indonesia.Awalnya, pria kelahiran Malang 21 Oktober 1976 ini membuat game hanya sebagai tugas dari gurunya. “Saat di sekolah, disuruh membuat programuntuk pembukuan, saya malah membuat game dengan menggunakan program GWBasic. Saya waktu itu dianggap aneh,” ujar pria yang juga mengabdi sebagai dosen di almamaternya, Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanagara.  Meski demikian, ia kini tak lagi dianggap aneh lantaran sanggup menunjukkan kapasitasnya dengan membuat 76 game hingga sekarang. Hebatnya lagi, pendiri perusahaan pengembang game Divine Kids Associates (DKA) itu tidak memiliki latar belakang pendidikan pemrograman komputer yang diperlukan untuk membuat game. “Saya belajar otodidak saja,” ujarnya yang mengaku game buatan perusahaannya yang diberikan gratis untuk publik telah diunduh sebanyak 31 juta kali, baik dari dalam maupun luar negeri.  Kini, perusahaan yang dibesutnya mendapat pesanan membuat game dari dalam maupun luar negeri seperti Taiwan dan Malaysia. Untuk sebuah karyanya

Bagi Pak David Setiabudi, membuat game komputer adalah obsesinya sejak duduk di SMA. Ternyata, pilihannya itu sukses membuatnya diganjar rekor Museum Rekor Indonesia pada 2004 ketika ia merilis game KuisKata, game resmi Indonesia pertama yang dirilis ke publik dengan menampilkan bahasa dan karakter asli Indonesia.Awalnya, pria kelahiran Malang 21 Oktober 1976 ini membuat game hanya sebagai tugas dari gurunya. “Saat di sekolah, disuruh membuat programuntuk pembukuan, saya malah membuat game dengan menggunakan program GWBasic. Saya waktu itu dianggap aneh,” ujar pria yang juga mengabdi sebagai dosen di almamaternya, Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanagara.



Meski demikian, ia kini tak lagi dianggap aneh lantaran sanggup menunjukkan kapasitasnya dengan membuat 76 game hingga sekarang. Hebatnya lagi, pendiri perusahaan pengembang game Divine Kids Associates (DKA) itu tidak memiliki latar belakang pendidikan pemrograman komputer yang diperlukan untuk membuat game. “Saya belajar otodidak saja,” ujarnya yang mengaku game buatan perusahaannya yang diberikan gratis untuk publik telah diunduh sebanyak 31 juta kali, baik dari dalam maupun luar negeri.

Kini, perusahaan yang dibesutnya mendapat pesanan membuat game dari dalam maupun luar negeri seperti Taiwan dan Malaysia. Untuk sebuah karyanya yang rata-rata dihasilkan dua unit per bulan itu, David membanderol Rp 15 juta-60 juta/game. “Harga itu tergantung pada tingkat kesulitan, kreasi dan waktu yang saya habiskan dalam menciptakan game. Tapi kalau mereka mempunyai permintaan khusus, tentu saja ada kompensasi, harga menjadi lebih tinggi,” kata pria yang berambisi menjadikan DKA sebagai pengembang game resmi dan profesional ini.

Biografi David Setiabudi (Pengusaha Gamer dari Indonesia)   Bagi Pak David Setiabudi, membuat game komputer adalah obsesinya sejak duduk di SMA. Ternyata, pilihannya itu sukses membuatnya diganjar rekor Museum Rekor Indonesia pada 2004 ketika ia merilis game KuisKata, game resmi Indonesia pertama yang dirilis ke publik dengan menampilkan bahasa dan karakter asli Indonesia.Awalnya, pria kelahiran Malang 21 Oktober 1976 ini membuat game hanya sebagai tugas dari gurunya. “Saat di sekolah, disuruh membuat programuntuk pembukuan, saya malah membuat game dengan menggunakan program GWBasic. Saya waktu itu dianggap aneh,” ujar pria yang juga mengabdi sebagai dosen di almamaternya, Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanagara.  Meski demikian, ia kini tak lagi dianggap aneh lantaran sanggup menunjukkan kapasitasnya dengan membuat 76 game hingga sekarang. Hebatnya lagi, pendiri perusahaan pengembang game Divine Kids Associates (DKA) itu tidak memiliki latar belakang pendidikan pemrograman komputer yang diperlukan untuk membuat game. “Saya belajar otodidak saja,” ujarnya yang mengaku game buatan perusahaannya yang diberikan gratis untuk publik telah diunduh sebanyak 31 juta kali, baik dari dalam maupun luar negeri.  Kini, perusahaan yang dibesutnya mendapat pesanan membuat game dari dalam maupun luar negeri seperti Taiwan dan Malaysia. Untuk sebuah karyanya

Divinekids adalah game yang diakui dan mendapat award resmi dari MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai Game Pertama Indonesia pada tahun 2004 dan banyak majalah-majalah Game dan Komputer (Gamestation, PCGAME, Bobo, INDOPOS, Game21, dll) . Sebenarnya sudah banyak game-game buatan orang-orang indonesia yang lain tetapi karena kekurangan syarat-syarat minimal tertentu seperti : Karakter menggunakan karakter asing, penyebaran yang kurang luas, bahasa yang digunakan bukan bahasa Indonesia, tidak terdaftar resmi Copyright ataupun Trademarknya, dll karena itu tidak dipilih sebagai Game Pertama Indonesia Resmi.

Menurut sebagian pengamat game ini adalah kurangnya investigasi MURI dalam hal melihat adanya game-game tersebut sebelum memberikan gelar game pertama ke David Setiabudi. Terlebih mereka tidak meminta pendapat dari pihak yang memahami dunia game Indonesia itu sendiri.


Pengamat-pengamat yang berpendapat berbeda dengan MURI dan majalah-majalah PC dan Game, memposisikan sejarah game Indonesia sebagai berikut: Sejarah Game Indonesia menurut Gamedevid. Selain itu juga masih ada banyak game-game lain yang belum terdokumentasi dengan baik. Beberapa game buatan Elex Media Komputindo dengan copyright resmi dan penyebaran yang luas ada juga yang dibuat sebelum sebelum dirilisnya Divine Kids. Game ini dibuat dan dibagikan secara gratis melalui CD majalah2 game/ komputer dan melalui Internet.

Biografi David Setiabudi (Pengusaha Gamer dari Indonesia)   Bagi Pak David Setiabudi, membuat game komputer adalah obsesinya sejak duduk di SMA. Ternyata, pilihannya itu sukses membuatnya diganjar rekor Museum Rekor Indonesia pada 2004 ketika ia merilis game KuisKata, game resmi Indonesia pertama yang dirilis ke publik dengan menampilkan bahasa dan karakter asli Indonesia.Awalnya, pria kelahiran Malang 21 Oktober 1976 ini membuat game hanya sebagai tugas dari gurunya. “Saat di sekolah, disuruh membuat programuntuk pembukuan, saya malah membuat game dengan menggunakan program GWBasic. Saya waktu itu dianggap aneh,” ujar pria yang juga mengabdi sebagai dosen di almamaternya, Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanagara.  Meski demikian, ia kini tak lagi dianggap aneh lantaran sanggup menunjukkan kapasitasnya dengan membuat 76 game hingga sekarang. Hebatnya lagi, pendiri perusahaan pengembang game Divine Kids Associates (DKA) itu tidak memiliki latar belakang pendidikan pemrograman komputer yang diperlukan untuk membuat game. “Saya belajar otodidak saja,” ujarnya yang mengaku game buatan perusahaannya yang diberikan gratis untuk publik telah diunduh sebanyak 31 juta kali, baik dari dalam maupun luar negeri.  Kini, perusahaan yang dibesutnya mendapat pesanan membuat game dari dalam maupun luar negeri seperti Taiwan dan Malaysia. Untuk sebuah karyanya

Game-game Divinekids berjumlah 38 lebih dan terus bertambah (2006). Pembuatnya adalah David Setiabudi dan mahasiswa-mahasiswi bimbingannya. Pembuatan musik gamenya dibuat oleh Rama Aurora, tunanetra berbakat membuat musik digital.David Setiabudi membuat game juga tahun 1992 tetapi tidak diakui sebagai game pertama Indonesia karena kurang memenuhi syarat. Ada juga game game buatan Korea yang terkenal diterjemahkan ke bahasa Indonesia & game-game yang penyebaran kurang luas & game yang berkaraker asing atau berbahasa asing & tidak terdaftar Copyright secara resmi tidak terpilih menjadi Game Pertama Indonesia. Ada yang berpendapat asal tahun tertulis paling tua itu patut disebut Game Pertama Indonesia tidak perduli dengan buatan negara mana, atau tersebar di lokal saja. Sampai sekarang masih diperdebatkan kelompok tertentu.
Load disqus comments

0 komentar