Sunday, April 3, 2016

Biografi Pangeran Diponegoro

Visit Pusat Bet


Biografi Pangeran Diponegoro  Pangeran Diponegoro, menurut Babad Diponegoro yang ia tulis sendiri di Penjara Menado, menceritakan  bahwa ia sejak muda telah mengabdi untuk agama, mengikuti jejak dan hidup moyangnya yang sangat taat  agama. Moyangnya itu tinggal di Tegalrejo. Untuk menghindari pengaruh kraton Yogyakarta, ia tinggal  bersama neneknya di Tegalrejo.1 Pemuda yang bernama Bendoro Raden Mas Ontowiryo sewaktu kecil ini  mendapat gemblengan langsung dari neneknya (permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo) sehingga minat  belajar Islamnya tinggi.2 Di tempat ini, selain memperdalam pengetahuan-nya tentang Islam, ia juga  secara tekun melaksanakan ketentuan ketentuan syariah Islam.  Lahir dan besar di Yogyakarta pada 11 November 1785. Ia dilahirkan dari seorang selir raja bernama R. A  Mangkarawati yang merupakan wanita dari daerah Pacitan. Karena merupakan anak dari seorang raja, Diponegoro pun mendapatkan gelar Pangeran di depan namanya.  Tambahan nama "pangeran" di depan namanya ternyata memang sudah bawaan dari silsilah keluarga. Lahir di lingkungan kerajaan tidak lantas membuat Diponegoro kecil menjadi anak yang manja. Lelaki yang kelak menjadi tokoh pahlawan Indonesia ini sudah terlihat istimewa. Dan hal ini tertulis dalam biografi Diponegoro.  Kehidupan Diponegoro sebagai salah satu keturunan raja juga diceritakan dalam biografi Diponegoro

Pangeran Diponegoro, menurut Babad Diponegoro yang ia tulis sendiri di Penjara Menado, menceritakan  bahwa ia sejak muda telah mengabdi untuk agama, mengikuti jejak dan hidup moyangnya yang sangat taat  agama. Moyangnya itu tinggal di Tegalrejo. Untuk menghindari pengaruh kraton Yogyakarta, ia tinggal  bersama neneknya di Tegalrejo.1 Pemuda yang bernama Bendoro Raden Mas Ontowiryo sewaktu kecil ini  mendapat gemblengan langsung dari neneknya (permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo) sehingga minat  belajar Islamnya tinggi.2 Di tempat ini, selain memperdalam pengetahuan-nya tentang Islam, ia juga  secara tekun melaksanakan ketentuan ketentuan syariah Islam.

Lahir dan besar di Yogyakarta pada 11 November 1785. Ia dilahirkan dari seorang selir raja bernama R. A  Mangkarawati yang merupakan wanita dari daerah Pacitan. Karena merupakan anak dari seorang raja, Diponegoro pun mendapatkan gelar Pangeran di depan namanya.  Tambahan nama "pangeran" di depan namanya ternyata memang sudah bawaan dari silsilah keluarga. Lahir di lingkungan kerajaan tidak lantas membuat Diponegoro kecil menjadi anak yang manja. Lelaki yang kelak menjadi tokoh pahlawan Indonesia ini sudah terlihat istimewa. Dan hal ini tertulis dalam biografi Diponegoro.

Kehidupan Diponegoro sebagai salah satu keturunan raja juga diceritakan dalam biografi Diponegoro ini.  Sudah merupakan tradisi bagi masyarakat Jawa bila seorang lelaki memiliki dua nama. Nama pada saat ia kecil, dan nama saat ia mulai tumbuh dewasa, begitupun dengan Diponegoro. Semasa kecil ia mempunyai nama Bendoro Raden Mas Ontowiryo, namanya berubah menjadi Diponegoro setelah ia  beranjak dewasa.

                                     Biografi Pangeran Diponegoro  Pangeran Diponegoro, menurut Babad Diponegoro yang ia tulis sendiri di Penjara Menado, menceritakan  bahwa ia sejak muda telah mengabdi untuk agama, mengikuti jejak dan hidup moyangnya yang sangat taat  agama. Moyangnya itu tinggal di Tegalrejo. Untuk menghindari pengaruh kraton Yogyakarta, ia tinggal  bersama neneknya di Tegalrejo.1 Pemuda yang bernama Bendoro Raden Mas Ontowiryo sewaktu kecil ini  mendapat gemblengan langsung dari neneknya (permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo) sehingga minat  belajar Islamnya tinggi.2 Di tempat ini, selain memperdalam pengetahuan-nya tentang Islam, ia juga  secara tekun melaksanakan ketentuan ketentuan syariah Islam.  Lahir dan besar di Yogyakarta pada 11 November 1785. Ia dilahirkan dari seorang selir raja bernama R. A  Mangkarawati yang merupakan wanita dari daerah Pacitan. Karena merupakan anak dari seorang raja, Diponegoro pun mendapatkan gelar Pangeran di depan namanya.  Tambahan nama "pangeran" di depan namanya ternyata memang sudah bawaan dari silsilah keluarga. Lahir di lingkungan kerajaan tidak lantas membuat Diponegoro kecil menjadi anak yang manja. Lelaki yang kelak menjadi tokoh pahlawan Indonesia ini sudah terlihat istimewa. Dan hal ini tertulis dalam biografi Diponegoro.  Kehidupan Diponegoro sebagai salah satu keturunan raja juga diceritakan dalam biografi Diponegoro

Jiwa ksatria dan rendah hati yang dimilikinya telah ia tunjukkan sedari kecil. Ia yang sadar akan posisi dirinya sebagai seorang anak selir, menolak untuk diangkat untuk menjadi seorang raja oleh  ayahnya. Ia lebih suka menjadi orang biasa yang pergaulannya tidak dibatasi oleh strata sosial. Dari kecil,  Diponegoro seperti sudah dihadapkan pada konflik batin yang pada akhirnya mendidik ia menjadi seorang  yang hebat.

Konflik batin seperti ini juga menajdi hal yang biasa dalam biografi Diponegoro. Dalam biografi Diponegoro diceritakan bahwa Pangeran Diponegoro akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama sang nenek  buyut di kawasan Tegalrejo. Di Tegalrejolah, Pangeran Diponegoro perlahan mempelajari ilmu-ilmu agama Islam. Ia pun tumbuh besar  menjadi seorang lelaki Muslim yang shaleh dan tetap mengagungkan nilai-nilai kejawaan yang sudah  menjadi identitasnya.

Ia pun menjadi pribadi yang merakyat. Dalam kehidupannya sehari-hari, ia tidak suka menonjolkan diri  sebagai seorang anak raja yang paling berpengaruh di Yogyakarta saat itu. Ia hidup biasa saja. Biografi Diponegoro menceritakan kesehajaan Diponegoro dengan jelas. Sifat-sifat luhur inilah yang pada akhirnya membawa Diponegoro menjadi seorang yang berjiwa ksatria.  Lebih jauh diceritakan dalam biografi Diponegoro, bahwa ketangguhan yang dimiliki Diponegoro adalah berkat proses panjang dalam menjalani kehidupan sebagai seorang putra selir.

Load disqus comments

0 komentar