Biografi Haji Agus Salim - Biografi dan Sejarah

Our site moved here Sejarah dan Biografi

Monday, September 12, 2016

Biografi Haji Agus Salim

 Biografi Haji Agus Salim           Haji Agus Salim adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1915, Salim bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi pemimpin kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto. Agus Salim lahir dengan nama Mashudul Haq (berarti "pembela kebenaran"); lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884, lahir dari pasangan Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab. Jabatan terakhir ayahnya adalah Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau.  Sebagai anak seorang jaksa, tentunya Agus Salim lebih beruntung dibanding anak yang  lain karena dengankedudukan keluarganya yang terhormat ini, ia bisa bersekolah  tinggi Belanda dengan tanpa hambatan. Agus Salim juga dikenal sangat pandai di  sekolahnya. Ketika remaja, Agus Salim telah menguasai tujuh bahasa asing yaitu  Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman.   Karena kecerdasan Agus Salim itulah pada 1903 beliau berhasil lulus dengan predikat  lulusan terbaik SMA atau HBS (Hogere Burger School) dimana saat itu masa belajar  Sekolah Menengah adalah 5 tahun diusianya yang masih belia yaitu 19 tahun. Agus  Salim menjadi lulusan terbaik di tiga kota yaitu Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Setelah lulus HBS maka Agus Salim menyampaikan minatnya untuk meneruskan sekolah ke  Belanda

Haji Agus Salim adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1915, Salim bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi pemimpin kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto. Agus Salim lahir dengan nama Mashudul Haq (berarti "pembela kebenaran"); lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884, lahir dari pasangan Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab. Jabatan terakhir ayahnya adalah Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau.

Sebagai anak seorang jaksa, tentunya Agus Salim lebih beruntung dibanding anak yang  lain karena dengankedudukan keluarganya yang terhormat ini, ia bisa bersekolah  tinggi Belanda dengan tanpa hambatan. Agus Salim juga dikenal sangat pandai di  sekolahnya. Ketika remaja, Agus Salim telah menguasai tujuh bahasa asing yaitu  Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman.

Karena kecerdasan Agus Salim itulah pada 1903 beliau berhasil lulus dengan predikat  lulusan terbaik SMA atau HBS (Hogere Burger School) dimana saat itu masa belajar  Sekolah Menengah adalah 5 tahun diusianya yang masih belia yaitu 19 tahun. Agus  Salim menjadi lulusan terbaik di tiga kota yaitu Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Setelah lulus HBS maka Agus Salim menyampaikan minatnya untuk meneruskan sekolah ke  Belanda dengan mengambil jurusan kedokteran. Beliau kemudia mengajukan beasiswa.  Namun entah kenapa beasiswa beliau ditolak.

Di lain pihak, RA Kartini yang hidup semasa dengan beliau melakukan hal yang sama  dan beasiswanya diterima namun karena RA Kartini sudah menikah dan sesuai adat  Jawa, perempuan yang sudah menikah tak boleh tinggal jauh dari suami maka Kartini  mengurungkan niatnya untuk mengambil kedokteran di Belanda. Kartini kemudian  mendengar kabar mengenai Agus Salim dan berniat ingin menggantikan beasiswanya  kepada Agus Salim.

Hal ini sempat termaktub dalam sebuah surat Kartini kepada sahabat Belandanya yaitu  Ny. Abendanon, istri pejabat yang menentukan pemberian beasiswa pemerintah pada   Kartini: “Kami tertarik sekali kepada seorang anak muda, kami ingin melihat dia  dikarunia bahagia. Anak muda itu namanya Salim, dia anak Sumatera asal Riau, yang  dalam tahun ini, mengikuti ujian penghabisan sekolah menengah HBS, dan ia keluar  sebagai juara. Juara pertama dari ketiga-tiga HBS! Anak muda itu ingin sekali pergi  ke Negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali, keadaan keuangannya  tidak memungkinkan.”

Pemerintah Hindia Belanda pun menyetujui usulan Kartini untuk menghibahkan beasiswa  senilai 4800 gulden pada Agus Salim. Namun Agus Salim menolak dengan halus karena   beliau beranggapan beasiswa Kartini itu bukan karena prestasinya melainkan karena  permintaan Kartini yang seorang bangsawan sehingga bisa memohon langsung ke  pemerintah. Bagi Agus Salim hal tersebut justru sangat menyinggung perasaannya  karena telah diperlakukan demikian.

Akhirnya Agus Salim mengurungkan niatnya sekolah kedokteran ke Belanda. Dalam waktu  yang bersamaan, beliau mendapat tawaran bekerja sebagai penerjemah di konsulat   Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Ini terjadi kira-kira tahun 1906 hingga 1911. Beliau  akhirnya menerima tawaran tersebut. Selain bekerja, beliau juga memperdalam ilmu  agama Islamm beliau langsung pada Imam Masjidil Haram yang masih pamannya juga yang  bernama Syech Ahmad Khatib. Beliau juga mempelajari ilmu diplomasi. Ketajaman ilmu  agama dan ilmu politik Agus Salim benar-benar diasah di Arab Saudi. Hingga ketika  pulang ke Indonesia, beliau telah mantab untuk bergabung dalam pergerakan nasional. 

 Biografi Haji Agus Salim           Haji Agus Salim adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1915, Salim bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi pemimpin kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto. Agus Salim lahir dengan nama Mashudul Haq (berarti "pembela kebenaran"); lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884, lahir dari pasangan Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab. Jabatan terakhir ayahnya adalah Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau.  Sebagai anak seorang jaksa, tentunya Agus Salim lebih beruntung dibanding anak yang  lain karena dengankedudukan keluarganya yang terhormat ini, ia bisa bersekolah  tinggi Belanda dengan tanpa hambatan. Agus Salim juga dikenal sangat pandai di  sekolahnya. Ketika remaja, Agus Salim telah menguasai tujuh bahasa asing yaitu  Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman.   Karena kecerdasan Agus Salim itulah pada 1903 beliau berhasil lulus dengan predikat  lulusan terbaik SMA atau HBS (Hogere Burger School) dimana saat itu masa belajar  Sekolah Menengah adalah 5 tahun diusianya yang masih belia yaitu 19 tahun. Agus  Salim menjadi lulusan terbaik di tiga kota yaitu Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Setelah lulus HBS maka Agus Salim menyampaikan minatnya untuk meneruskan sekolah ke  Belanda


Beliau juga mendirikan sekolah HIS (Hollandsche Inlandesche School). Dalam dunia politik, Agus Salim kemudian bergabung dengan Serikat Islam pimpinan  HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis pada 1915. Awalnya SI memiliki perwakilan di  pemerintah Hindia Belanda yaitu di Volksraad (semacam DPR/MPR). Di Volksraad, SI  diwakili oleh kedua tokoh pimpinannya yaitu HOS Tjokroaminoto dan abdul Muis. Namun  kedua tokoh ini mundur karena tak menyukai kebijakan Belanda. Akhirnya tempat itu  digantikan oleh Agus Salim. Ternyata Agus Salim juga mengalami kekecewaan yang sama  seperti yang dirasakan pendahulunya. Akhirnya Agus Salim berkesimpulan bahwa  berjuang dari ‘dalam’ tak ada gunanya. Akhirnya Agus Salim keluar dari Volksraad  dan fokus pada SI.

Di tahun 1923, SI mengalami perpecahan ideologi dimana beberpa tokoh SI seperti  Semaun dan Darsono menghendaki agar SI condong ke ‘kiri’ sedang Agus Salim dan HOS  Tjokroaminoto tetap menghendaki SI lebih berhalauan ‘kanan’. Akhirnya SI pecah jadi dua yaitu SI kanan dan SI kiri yang kemudian berubah menjadi  Sarekat Rakyat yang merupakan cikal bakal PKI. Agus Salim tetap setia dengan Serikat Islam. Kedudukan Agus Salim dalam SI  sebenarnya biasa saja bahkan karena beliau pernah bekerja di pemerintahan dan tak  pernah dipenjarakan seperti HOS Tjokroaminoto, beliau sempat dituduh mata-mata  Belanda. Namun Agus Salim menepisnya melalui pidato-pidatonya yang sering  mengkritik pemerintahan Belanda. Agus Salim bahkan didaulat sebagai pimpinan puncak SI ketika HOS Tjokroaminoto  wafat pada 1934.

Kiprah Agus Salim tak hanya melalui SI. Beliau juga telah mendirikan Jong  Islamieten Bond dimana beliau membuat perubahan baru untuk mengganti doktrin  keagamaan yang kaku dengan meniadakan hijab kain pada duduk laki-laki dan perempuan  dalam kongres Jong Islamieten Bond ke 2 di Yogyakarta tahun 1927. Tentunya hal ini  sudah disetujui oleh seluruh pengurus organisasi. Pada saat Indonesia akan memproklamirkan kemerdekaannya, Agus Salim didaulat  menjadi anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Ketika Republik  tercinta ini berhasil merdeka, Agus Salim diangkat sebagai anggota Dewan

Pertimbangan Agung. Beliau juga diangkat menjadi Menteri Muda Luar Negeri pada  Kabinet Syahrir I dan II juga dalam Kabinet Hatta. Hal ini mengingat Agus Salim  sangat pandai dalam berdiplomasi serta menguasai tujuh bahasa asing. Beliau juga  ditunjuk menjadi penasehat Menteri Luar Negeri setelah Indonesia diakui  kedaulatannya dimata dunia Internasional.

Agus Salim juga mendapat julukan “The Grand Old Man” . Hal ini karena kepiawaiannya  dalam berdiplomasi yang belum ada tandingannya saat itu. Agus Salim memiliki  perawakan yang kecil dan terbiasa dengan mengenakan sarung dan peci. Kesederhanaan  hidupnya ini tidak menggambarkan kesederhanaan pemikirannya. Agus Salim memiliki  jiwa yang bebas, beliau tak mau dikekang oleh batasan-batasan. Beliau berhasil  mendobrak tradisi Minang yang cukup kolot.

Beliau selalu berpindah-pindah dan tak pernah memiliki rumah tetap. Surabaya, Yogya  dan Jakarta adalah sebaran hidup beliau. Di kota-kota tersebut beliau hanya menyewa  rumah kevil dan sangat sederhana. Beliau juga mengajar anaknya sendiri. Anaknya tak  ada yang bersekolah di sekolah formal. Hanya anak bontotnya yang bersekolah di  sekolah formal. Hal ini beliau lakukan karena beliau bisa memiliki keahlian ini  semua bukan berasal dari sekolah formal melainkan dari otodidak ‘learning by doing’  dalam kehidupan nyata.

”Saya telah melalui jalan berlumpur akibat pendidikan kolonial,” ujarnya tentang  penolakannya terhadap pendidikan formal kolonial yang juga sebagai bentuk  pembangkangannya terhadap kekuasaan Belanda.

Haji Agus Salim menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 4 November 1954 di  usia 70 tahun. Agus Salim adalah pahlawan nasional yang sangat langka. Beliau hampir sempurna  dalam hal diplomasi. Latar belakang beliau yang anak dari seorang pejabat  pemerintahan sekaligus dari keluarga religius turut mewarnai pribadi Agus Salim.  Perjuangan dan pengorbanan beliau untuk Republik ini patut kita berucap trima kasih  sebesar-besarnya. Tak hanya Agus Salim tapi juga bagi semua jasa pahlawan-pahlawan yang telah  memberikan segenap hidup, jiwa, raga, harta, nyawa bahkan keluarganya demi  tercpainya kemerdekaan Indonesia.

 Biografi Haji Agus Salim           Haji Agus Salim adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1915, Salim bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi pemimpin kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto. Agus Salim lahir dengan nama Mashudul Haq (berarti "pembela kebenaran"); lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884, lahir dari pasangan Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab. Jabatan terakhir ayahnya adalah Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau.  Sebagai anak seorang jaksa, tentunya Agus Salim lebih beruntung dibanding anak yang  lain karena dengankedudukan keluarganya yang terhormat ini, ia bisa bersekolah  tinggi Belanda dengan tanpa hambatan. Agus Salim juga dikenal sangat pandai di  sekolahnya. Ketika remaja, Agus Salim telah menguasai tujuh bahasa asing yaitu  Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman.   Karena kecerdasan Agus Salim itulah pada 1903 beliau berhasil lulus dengan predikat  lulusan terbaik SMA atau HBS (Hogere Burger School) dimana saat itu masa belajar  Sekolah Menengah adalah 5 tahun diusianya yang masih belia yaitu 19 tahun. Agus  Salim menjadi lulusan terbaik di tiga kota yaitu Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Setelah lulus HBS maka Agus Salim menyampaikan minatnya untuk meneruskan sekolah ke  Belanda

Karir Politik


Belakangan, Agus Salim memilih berangkat ke Jedah, Arab Saudi, untuk bekerja sebagai penerjemah di konsulat Belanda di kota itu antara 1906-1911. Di sana, dia memperdalam ilmu agama Islam pada Syech Ahmad Khatib, imam Masjidil Haram yang juga pamannya, serta mempelajari diplomasi. Sepulang dari Jedah, dia mendirikan sekolah HIS (Hollandsche Inlandsche School), dan kemudian masuk dunia pergerakan nasional. Karir politik Agus Salim berawal di SI, bergabung dengan HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis pada 915. Ketika kedua tokoh itu mengundurkan diri dari Volksraad sebagai wakil SI akibat kekecewaan mereka terhadap pemerintah Belanda, Agus Salim menggantikan mereka selama empat tahun (1921-1924) di lembaga itu. Tapi, sebagaimana pendahulunya, dia merasa perjuangan “dari dalam” tak membawa manfaat. Dia keluar dari Volksraad dan berkonsentrasi di SI.

Perpecahan mulai timbul di SI. Semaun dan kawan-kawan menghendaki SI menjadi organisasi yang condong ke kiri, sedangkan Agus Salim dan Tjokroaminoto menolaknya. Buntutnya SI terbelah dua: Semaun membentuk Sarekat Rakyat yang kemudian berubah menjadi PKI, sedangkan Agus Salim tetap bertahan di SI. Karier politiknya sebenarnya tidak begitu mulus. Dia pernah dicurigai rekan rekannya sebagai mata-mata karena pernah bekerja pada pemerintah. Apalagi, dia tak pernah ditangkap dan dipenjara seperti Tjokroaminoto. Tapi, beberapa tulisan dan pidato Agus Salim yang menyinggung pemerintah mematahkan tuduhan-tuduhan itu. Bahkan dia berhasil menggantikan posisi Tjokroaminoto sebagai ketua setelah pendiri SI itu meninggal dunia pada 1934.
Load disqus comments

0 komentar