Biografi William Soeryadjaya – Pendiri Astra Internasional - Biografi dan Sejarah

Our site moved here Sejarah dan Biografi

Monday, October 10, 2016

Biografi William Soeryadjaya – Pendiri Astra Internasional

  Biografi William Soeryadjaya – Pendiri Astra Internasional     Beliau adalah taipan Indonesia yang berdarah Tiongkok. Berkat keuletannya , Astra menjadi perusahaan yang sangat besar dengan pertumbuhan yang pesat di negeri ini. Bagaimana perjalanan Om William membesarkan Astra, berikut ini Kisah Sukses, Biografi William Soeryadjaya. William Soeryadjaya dilahirkan di Majalengka , 23 Desember 1923 dengan nama Tjia Kian Liong. Ia adalah anak kedua dari 6 bersaudara dan anak laki-laki pertama dalam keluarganya.  Masa kecil William tak terlalu beda dengan anak-anak pada umumnya, sekolah, bermain, membantu berdagang ayahnya. Hingga pada usia 12 tahun cobaan datang menerpa keluarga mereka. Sang ayah meninggal pada bulan Oktober 1934, kemudian ibunya juga meninggal pada Desember 1934. Praktislah di usia 12 tahun William dan saudaranya menjadi anak yatim piatu.  Ketika itu tak ada pilihan selain harus terus berjuang menyambung hidup. William Suryadjaya akhirnya meneruskan usaha sang ayah yaitu berjualan hasil bumi. Karena dia harus bekerja, akhirnya sekolahnya terlantar. Hingga ia sempat tinggal kelas. Namun ia pantang menyerah, ia tetap meneruskan sekolah. Hingga ia berhasil lanjut pendidikan ke MULO . Bidang study yang disukai William Suryadjaya adalah ekonomi dan tata buku/ pembukuan. Dan ternyata dua ilmu inilah yang mengantarkan seorang William Suryadjaya sukses

Beliau adalah taipan Indonesia yang berdarah Tiongkok. Berkat keuletannya , Astra menjadi perusahaan yang sangat besar dengan pertumbuhan yang pesat di negeri ini. Bagaimana perjalanan Om William membesarkan Astra, berikut ini Kisah Sukses, Biografi William Soeryadjaya. William Soeryadjaya dilahirkan di Majalengka , 23 Desember 1923 dengan nama Tjia Kian Liong. Ia adalah anak kedua dari 6 bersaudara dan anak laki-laki pertama dalam keluarganya.


Masa kecil William tak terlalu beda dengan anak-anak pada umumnya, sekolah, bermain, membantu berdagang ayahnya. Hingga pada usia 12 tahun cobaan datang menerpa keluarga mereka. Sang ayah meninggal pada bulan Oktober 1934, kemudian ibunya juga meninggal pada Desember 1934. Praktislah di usia 12 tahun William dan saudaranya menjadi anak yatim piatu.

Ketika itu tak ada pilihan selain harus terus berjuang menyambung hidup. William Suryadjaya akhirnya meneruskan usaha sang ayah yaitu berjualan hasil bumi. Karena dia harus bekerja, akhirnya sekolahnya terlantar. Hingga ia sempat tinggal kelas. Namun ia pantang menyerah, ia tetap meneruskan sekolah. Hingga ia berhasil lanjut pendidikan ke MULO . Bidang study yang disukai William Suryadjaya adalah ekonomi dan tata buku/ pembukuan. Dan ternyata dua ilmu inilah yang mengantarkan seorang William Suryadjaya sukses dalam berbisnis.


William Suryadjaya Menikah


Pada tanggal 15 Januari 1947, William meminang seorang gadis yang bernama Lily Anwar. Mereka kemudian menikah di catatan sipil tanpa ada pesta besar2an bahkan tak ada apa-apa. Pakaian yang mereka kenakan pun pakaian sehari -hari. Pulang dari catatan sipil, mereka pun pulang kerumah dan seperti tak ada apa-apa.

Dari pernikahannya William Soeryadjaya dikaruniai 4 orang anak , yaitu Edwin Soeryadjaya, Edward Soeryadjaya, Joyce Soeryadjaya, Judith Soeryadjaya. William Soeryadjaya dan istri berjualan kacang dan rokok dan kacang. Mereka sangat hidup hemat. Ketika masih pengantin muda, William melanjutkan sekolah ke Belanda untuk menimba ilmu penyamakan kulit. Sepulang dari Belanda ia mendirikan perusahaan penyamakan kulit. William Soeryadjaya Mendirikan Astra Internasional

Kantor Astra International


Perusahaan penyamakan kulit dan usaha dagang hasil bumi William dan istri makin lama makin berkembang. William memutuskan untuk focus memasarkan hasil bumi ditambah dengan berbagai minuman ringan. Inilah cikal bakal berdirinya Astra. Ditahun 1957 William menggandeng adiknya yaitu Tjia Kian Tie dan temannya Lim Peng Hong untuk mendirikan perusahaan yang lebih professional yaitu Astra. Selain hasil bumi dan minuman ringan, Asttra kemudian juga mengimpor truk untuk dipasarkan di dalam negeri.

Ketika inilah Astra yang kemudian menjadi Astra Internasional Tbk semakin menggurita dengan berbagai anak perusahaan yang lebih dari 70 perusahaan dibawahnya. Bahkan di tahun 1992 ada 300 perusahaan yang ada dalam grup Astra. Astra menjadi perusahaan besar dengan saham blue chipnya tak lepas dari focus William dalam mengembangkan SDM nya. William tak segan – segan mengirim karyawannya yang terlihat cerdas untuk belajar ke luar negeri. Salah satu petinggi grup Astra yang juga mendapat bea siswa adalah Sandiaga SalahudinUno.

Dalam menjalankan perusahaannya,, William mengutamakan nilai-nilai naluri, loyalitas dan tentu kejujuran. SDM Astra benar-benar digembleng untuk menjadi unggulan, mengutamakan innovasi dalam pengembangan produk.


William Soeryadjaya Pernah Hampir Pailit


Di Tahun 1992, ada salah satu anak perusahaan Astra yaitu Bank Summa yang dipegang oleh anak William Soeryadjaya yaitu Edwin Soeryadjaya hampir colaps. Hal ini dikarenakan keberanian Edward memberikan kredit untuk nasabahnya. Hal ini membuat hutang Bank Summa meningkat tajam tak terkendali. Pilihan saat itu adalah menutup Bank Summa yang sudah menjadi lading hidup bagi ratusan karyawannya atau menjual saham Astra untuk menutup hutang-hutang bank Summa sehingga tidak sampai di likuidasi.

William Soeryadjaya bukanlah orang yang egois. Beliau sangat mengedepankan kepentingan karyawannya daripada diri sendiri. Akhirnya beliau memilih menyelamatkan Bank Summa dengan menjual semua sahamnya di Astra. Itu adalah pilihan yang sulit bagi dirinya. Namun beliau memilih yang terbaik. Daripaa menutup Bank Summa dan menjadikan banyak karyawannya pengangguran.
Setelah keputusannya itu, William Soeryadjaya pelan-pelan bangkit. Ia membeli 10 juta saham PT Mandiri Intifinance, beliau juga berinvestasi di pengembangan usaha kecil seperti pertanian, UKM dan semacamnya. William Soeryadjaya telah melalui pasang surutnya kehidupan. Yang pasti saat ini Astra telah menjadi perusahaan yang cukup bisa diandalkan baik secara nasional ataupun internasional. William Soeryadjaya meninggal pada tanggal 2 April tahun 2010 silam karena sakit yang di deritanya. Beliau meninggal di RS Medistra Jakarta.

Di bank ini William mengantongi 60 persen saham yang dibagi rata dengan Edward. Cuma, sayangnya, Edward kurang berhati-hati dalam menjalankan roda usaha perbankan itu. Edward terlalu royal dalam mengumbar kredit. Akibatnya, tahun 1992 bank ini dilanda utang yang begitu besar dan untuk melunasinya, terpaksa William melepas kepemilikannya di Astra. Namun, yang patut dipuji dari sikap William semasa kejayaannya di Astra adalah kepeduliannya terhadap rekannya, pengusaha kecil. Dalam suatu tulisannya di harian Suara Karya, "Peranan Pengusaha Besar Dalam Kerja Sama dengan Pengusaha Kecil demi Suksesnya Pelita IV", mengetengahkan bentuk-bentuk kerja sama antara yang besar dan yang kecil. Misalnya, menjadikan perusahaan besar sebagai market dari perusahaan kecil dalam bentuk leadership dan menjadi perusahaan kecil sebagai bagian dari service network produk perusahaan besar.

  Biografi William Soeryadjaya – Pendiri Astra Internasional     Beliau adalah taipan Indonesia yang berdarah Tiongkok. Berkat keuletannya , Astra menjadi perusahaan yang sangat besar dengan pertumbuhan yang pesat di negeri ini. Bagaimana perjalanan Om William membesarkan Astra, berikut ini Kisah Sukses, Biografi William Soeryadjaya. William Soeryadjaya dilahirkan di Majalengka , 23 Desember 1923 dengan nama Tjia Kian Liong. Ia adalah anak kedua dari 6 bersaudara dan anak laki-laki pertama dalam keluarganya.  Masa kecil William tak terlalu beda dengan anak-anak pada umumnya, sekolah, bermain, membantu berdagang ayahnya. Hingga pada usia 12 tahun cobaan datang menerpa keluarga mereka. Sang ayah meninggal pada bulan Oktober 1934, kemudian ibunya juga meninggal pada Desember 1934. Praktislah di usia 12 tahun William dan saudaranya menjadi anak yatim piatu.  Ketika itu tak ada pilihan selain harus terus berjuang menyambung hidup. William Suryadjaya akhirnya meneruskan usaha sang ayah yaitu berjualan hasil bumi. Karena dia harus bekerja, akhirnya sekolahnya terlantar. Hingga ia sempat tinggal kelas. Namun ia pantang menyerah, ia tetap meneruskan sekolah. Hingga ia berhasil lanjut pendidikan ke MULO . Bidang study yang disukai William Suryadjaya adalah ekonomi dan tata buku/ pembukuan. Dan ternyata dua ilmu inilah yang mengantarkan seorang William Suryadjaya sukses

Sikapnya yang lain, yang juga patut ditiru, adalah kepeduliannya terhadap dunia pendidikan. William merelakan tanahnya di Cilandak, Jakarta Selatan, terjual dengan harga "miring" bagi pembangunan gedung Institut Prasetya Mulya, lembaga pendidikan yang dimaksudkan mencetak tenaga-tenaga manajer yang andal. Sejumlah konglomerat juga ikut membidani lembaga. William sendiri kala itu duduk sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina. Sikap religiusnya pun merupakan salah satu contoh yang baik dalam menjalankan roda usahanya. Penganut Protestan yang teguh ini percaya betul bahwa keberhasilan yang diperolehnya , selain kerja kerasnya bersama semua karyawan, juga berkat rahmat dari Tuhan, bukan semata dari dirinya.
Load disqus comments

0 komentar