Wednesday, January 4, 2017

Biografi Peter Higgs

Visit Pusat Bet

  Biografi Peter Higgs     Lahir di Newcastel 29 Mei tahun 1929, Higgs sudah jatuh cinta dengan fisika semenjak remaja. Masa kecil sering berpindah kota. Mengikuti ayahnya yang berprofesi sebagai teknisi suara di radio BBC. Didera sejumlah penyakit, lalu sering berpindah kota itu, sekolahnya memang sempat berantakan. Beruntung Higgs kemudian memilih menetap bersama ibunya. Di sebuah kota kecil bernama Bristol. Sedang sang ayah tinggal di Bedford. "Ibu mendorong saya untuk maju. Sedangkan ayah, dia hanya takut berhadapan dengan tanggung jawab memelihara anak," kata Higgs tentang ayah ibunya. Jatuh cinta dengan fisika sudah terlihat ketika dia bersekolah di Cotham Grammar School. Apalagi fisikawan Paul Dirac adalah alumni sekolah tersebut. Dirac yang dianggap sebagai bapak mekanika kuantum ini rupanya sangat menginspirasi Peter Higgs. Menapaki jejak Dirac, Higgs pun mulai menceburkan diri dalam fisika teoritis. Dia sangat bersemangat. Rajin belajar dan membaca buku. "Ini tentang memahami, memahami dunia," ujar Higgs dengan antusias.  Sekolahnya sempat berantakan. Sebab perang berkecamuk. Bristol luluh lantak dihujani bom tentara Jerman. "Hal pertama yang saya lakukan saat tiba di sekolah itu adalah mematahkan tangan kiri saya setelah jatuh akibat bom," kisah Higgs mengenang. Higgs juga terpisah dari keluarganya hingga perang berakhir

Lahir di Newcastel 29 Mei tahun 1929, Higgs sudah jatuh cinta dengan fisika semenjak remaja. Masa kecil sering berpindah kota. Mengikuti ayahnya yang berprofesi sebagai teknisi suara di radio BBC. Didera sejumlah penyakit, lalu sering berpindah kota itu, sekolahnya memang sempat berantakan. Beruntung Higgs kemudian memilih menetap bersama ibunya. Di sebuah kota kecil bernama Bristol. Sedang sang ayah tinggal di Bedford. "Ibu mendorong saya untuk maju. Sedangkan ayah, dia hanya takut berhadapan dengan tanggung jawab memelihara anak," kata Higgs tentang ayah ibunya. Jatuh cinta dengan fisika sudah terlihat ketika dia bersekolah di Cotham Grammar School. Apalagi fisikawan Paul Dirac adalah alumni sekolah tersebut. Dirac yang dianggap sebagai bapak mekanika kuantum ini rupanya sangat menginspirasi Peter Higgs. Menapaki jejak Dirac, Higgs pun mulai menceburkan diri dalam fisika teoritis. Dia sangat bersemangat. Rajin belajar dan membaca buku. "Ini tentang memahami, memahami dunia," ujar Higgs dengan antusias.

Sekolahnya sempat berantakan. Sebab perang berkecamuk. Bristol luluh lantak dihujani bom tentara Jerman. "Hal pertama yang saya lakukan saat tiba di sekolah itu adalah mematahkan tangan kiri saya setelah jatuh akibat bom," kisah Higgs mengenang. Higgs juga terpisah dari keluarganya hingga perang berakhir. Di umur 17 tahun, Higgs kemudian masuk ke City of London School. Dia mengambil jurusan Matematika. Higgs tidak tertarik melanjutkan kuliah di Oxford atau Cambridge. Dia beralasan, "Itu merupakan tempat orang kaya untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu,” kata Higss. Jika ingin serius soal universitas, lanjutnya, Anda harus kuliah di tempat lain. Higgs kemudian kuliah di King's College, London. Lulus dari kampus itu menjadi dosen di Universitas Edinburgh. Saat menjadi dosen itulah, Higgs tertarik dengan misteri: mengapa benda di sekitar kita memiliki berat atau massa.

Pertanyaan itu terus berputar di benak. Suatu hari, ketika sedang menghabiskan liburan di Cairngorms, sebuah kawasan pegunungan di wilayah timur Dataran Tinggi Skotlandia, Higgs mengutak-atik soal teori medan yang tak tampak dan partikel itu.Higgs lalu melakukan serangkaian penelitian. Hasil penelitian itu dikemas dalam tulisan ilmiah. Tulisan itu dikirim ke jurnal ilmiah "The Phsysics Letters". Sayang tulisan itu ditolak mentah-mentah para editor. Lebih menyakitkan lagi, editor jurnal ilmiah yang dikelola oleh Organisasi Eropa untuk Penelitian Nuklir (CERN) itu menyebut temuan Higgs secara jelas tidak memiliki relevansi dengan fisika. "Ketika itu dia (Higgs) hanya berpikir, 'Sudahlah, mereka tidak memahami itu'," kisah ilmuwan yang menjadi kolega Peter Higgs, Alan Walker.

Bukan hanya ditolak jurnal ilmiah bergengsi, Higgs juga sering di ejek para sahabat. Banyak kolega yang mengira dia seorang idiot, karena mengutak-atik teori medan kuantum, yang dianggap sudah kuno. Tapi dia tidak menyerah. Terus melakukan penelitian. Sejumlah ilmuwan juga mengembangkan teori yang serupa dengan Higgs. Antara lain Robert Brout dan Francois Englert. Temuan mereka ini yang kemudian dimuat di jurnal “Physical Review Letters”. Para ilmuwan itu sepakat menamakan medan tak tampak beserta partikel itu dengan sebutan,"mekanisme Higgs".

Peter Higgs berhasil membuktikan teorinya setelah empat puluh delapan tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 4 Juli 2012. Adalah CERN yang berhasil membuktikan teori itu. CERN memanfaatkan laboratorium pemecah partikel raksasa Large Hadron Collider (LHC) untuk membuktikan teori Higgs. CERN mempresentasikan penelitian kolosal yang melibatkan 3000 ilmuwan dari 40 negara. Tim itu terbagi dua, dipimpin oleh Joe Incandela dan Fabiola Gianotti yang bereksperimen terpisah di Large Hadron Collider-A Toroidal LHC Apparatus (ATLAS) dan Compact Muon Solenoid (CMS).

Mereka menemukan partikel yang memiliki massa sekitar 125-126 GeV (gigaelectronic volts, atau seratus energi setara miliaran elektron volts). Dan partikel itu dinamakan partikel Tuhan. Ada kisah unik dibalik istilah yang menggelitik tersebut. Istilah "partikel Tuhan" dikenal sejak tahun 1993 dari buku yang berjudul The God Particle; if the Universe is the Answer, What is the Question? karya penerima Nobel Fisika Leon M. Lederman.

Higgs menceritakan, awalnya sang penulis memberi nama partikel tersebut "goggamn particle" alias partikel terkutuk". Saking sulitnya untuk ditemukan. Namun, editor tak berkenan dan mengubahnya menjadi "God particle" alias "partikel Tuhan". Istilah tersebut tidak digunakan oleh par fisikawan, namun menarik bagi umum.


Referensi


http://sejarahpopulerdunia.blogspot.co.id/2014/10/peter-higgs-nobel-prize-2013.html

http://pusat-biografi.blogspot.co.id/2015/09/peter-higgs.html

Load disqus comments

0 komentar