Biografi Fazlur Rahman Khan - Biografi dan Sejarah

Our site moved here Sejarah dan Biografi

Tuesday, April 4, 2017

Biografi Fazlur Rahman Khan


   Biografi Fazlur Rahman Khan    asa Kecil   Fazlur Rahman lahir pada tanggal 21 September 1919 di suatu daerah yang letaknya di Hazara sebelum terpecahnya India, kini merupakan bagian dari Pakistan. Fazlur Rahman dibesarkan dalam lingkungan yang mayoritas masyarakatnya menganut mazhab Hanafi. Mazhab Hanafi merupakan mazhab yang didasari al-Qur’an dan Sunnah, akan tetapi cara berfikirnya lebih rasional. Nampaknya faktor lingkungan cukup mempengaruhi pondasi pemikiran Fazlur Rahman yang juga rasional di dalam berfikirnya, meskipun ia mendasarkan pemikirannya pada al-Qur’an dan sunnah.  Pada masa kanak-kanak, Rahman mendapatkan pendidikan formal di Madrasah, di samping itu Rahman juga mendapatkan pembelajaran keislaman oleh ayahnya, Maulana Syaha>b al-Di>n (dalam referensi lainnya disebut Syiha>b al-Di>n), seorang Syaikh tradisional yang memiliki pandangan progresif. Rahman telah belajar diskursus-diskursus Islam semenjak dini, meliputi bahasa Arab, Persia, Retorika (Mantiq), hadis, tafsir, fiqh, dan sebagainya. Pada usia 10 tahun, Fazlur Rahman telah menamatkan hafalan Qur’an. Ini mencerminkan betapa ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang religious. Walaupun ia dibesarkan di lingkungan yang mempunyai pemikiran tradisional, hal ini tidak lantas menjadikan Rahman seperti layaknya pemikir tradisional yang anti modernitas, bahkan ayahnya berkeyakinan bahwa Islam harus memandang modernitas sebagai tantangan dan kesempurnaan.  Pendidikan   Setelah mempelajari ilmu-ilmu dasar

Masa Kecil


Fazlur Rahman lahir pada tanggal 21 September 1919 di suatu daerah yang letaknya di Hazara sebelum terpecahnya India, kini merupakan bagian dari Pakistan. Fazlur Rahman dibesarkan dalam lingkungan yang mayoritas masyarakatnya menganut mazhab Hanafi. Mazhab Hanafi merupakan mazhab yang didasari al-Qur’an dan Sunnah, akan tetapi cara berfikirnya lebih rasional. Nampaknya faktor lingkungan cukup mempengaruhi pondasi pemikiran Fazlur Rahman yang juga rasional di dalam berfikirnya, meskipun ia mendasarkan pemikirannya pada al-Qur’an dan sunnah.

Pada masa kanak-kanak, Rahman mendapatkan pendidikan formal di Madrasah, di samping itu Rahman juga mendapatkan pembelajaran keislaman oleh ayahnya, Maulana Syaha>b al-Di>n (dalam referensi lainnya disebut Syiha>b al-Di>n), seorang Syaikh tradisional yang memiliki pandangan progresif. Rahman telah belajar diskursus-diskursus Islam semenjak dini, meliputi bahasa Arab, Persia, Retorika (Mantiq), hadis, tafsir, fiqh, dan sebagainya. Pada usia 10 tahun, Fazlur Rahman telah menamatkan hafalan Qur’an. Ini mencerminkan betapa ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang religious. Walaupun ia dibesarkan di lingkungan yang mempunyai pemikiran tradisional, hal ini tidak lantas menjadikan Rahman seperti layaknya pemikir tradisional yang anti modernitas, bahkan ayahnya berkeyakinan bahwa Islam harus memandang modernitas sebagai tantangan dan kesempurnaan.


Pendidikan


Setelah mempelajari ilmu-ilmu dasar ini, ia melanjutkan ke Punjab University di Lahore untuk menyelesaikan Strata 1 dan 2 di bidang sastra Arab, di mana ia lulus dengan penghargaan untuk bahasa Arabnya dan di sana juga ia mendapatkan gelar MAnya. Integritas keilmuan Fazlur Rahaman mulai terlihat ketika ia memutuskan untuk belajar di Oxford, Inggris pada tahun 1946. Keputusan tersebut berawal dari keprihatinan dan etidakpuasannya terhadap pendidikan dalam negeri yang menurutnya masih terbelakang.[4] Di Oxford ia mempersiapkan disertasi tentang psikologi Ibnu Sina di bawah pengawasan professor Simon van Den Berg. Disertasi itu merupakan terjemahan dan kritikan pada bagian dari kitab AnNajt, milik filosof muslim kenamaan abad ke-7 itu.

Empat tahun berselang, ia mendapatkan gelar Ph.D dalam bidang sastra. Kehidupan akademis di Inggris ia manfaatkan untuk belajar beragam bahasa hingga ia berhasil menguasai bahasa Inggris, Latin, Yunani, Prancis, Jerman, Turki, Arab, Persia, selain Urdu sebagai bahasa ibu-nya. Bagian terpenting adalah interaksinya dengan dunia rasionalisme di Barat yang semakin berkembang. Berbicara tentang alur pemikiran Rahman ada dua istilah metodik yang sering disebutkan dalam buku-bukunya yakni historico-critical method (metode kritik sejarah) dan hermeunetic method (metode hermeunetik). Kedua istilah tersebut merupakan kata kunci untuk menelusuri metode metode dalam pemikirannya.

Sistem pendidikan modern nan canggih dibuktikan dengan kemampuan dan keseriusanya dalam research yang kemudian melahirkan banyak pakar. Di antaranya menekuni bidang Islamic Studies yang terkenal dengan nama-nama Ignaz Goldziher, Joseph Shacht, H.R Gibb, N.J. Coulson, J.N.D. Anderson, dan sebagainya. Jiwa kritis yang telah ia bangun semenjak dini, yang berawal dari progresifitas ayahnya, tampaknya semakin didukung dengan kondisi pendidikan yang demikian. Tak heran jika kemudian Fazlur Rahman tampil sebagai tokoh Islam yang pertama mendapatkan medali Giorgio Levi Della Vida.


Karir


Setelah berhasil menyelesaikan studinya di Oxford, Fazlur Rahman lantas tidak pulang kampung. Ia memilih untuk berkarir akademis di Durham University sebagai dosen bahasa Persia dan Filsafat Islam (1950-1958) dan kemudian hijrah ke Kanada untuk menjadi Associate Professor pada kajian Islam di Institute Of Islamic Studies McGill University Kanada di Montreal,16 di mana dia menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy. Mengiringi tampuk pemerintahan Pakistan yang dipengang oleh Ayyub Khan yang berpandangan modern, Fazlur Rahman pulang ke kampung halamannya dan berniat untuk membenahi negerinya. Di sana Fazlur Rahman menghadapi perdebatan antara tiga kelompok besar: tradisionalis, fundamentalis, dan modernis. Di Pakistan Rahman menjabat sebagai direktur Central Institute of Islamic Research (Pusat Lembaga Riset Islam) dan Advisory Council of Islamic Ideology (Dewan Penasihat Ideologi Islam).

Selama memangku jabatan tersebut, Fazlur Rahman mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan gagasan progresifnya dalam perdebatanperdebatan yang telah ada. Gagasangagasannya, seperti yang berkenaan dengan kehalalan makanan yang disembelih dengan mesin, Hadis dan Sunnah, riba, bunga Bank, dan sebagainya, telah memicu kontroversi. Usaha Fazlur Rahman sebagai seorang pemikir modern ditentang keras oleh para ulama tradisional-fundamentalis. Puncak dari segala kontroversialnya memuncak ketika 2 bab karya momumentalnya, Islam (1966) ditentang keras karena pernyataan Fazlur Rahman dalam buku tesebut “Bahwa Al-Qur’an itu secara keseluruhan adalah kalam Allah dan dalam pengertian biasa juga seluruhnya merupakan perkataan Muhammad”sehingga Fazlur Rahman dianggap orang yang memungkiri Al-Qur’an. Merasa tidak nyaman akan hal itu pada 5 September 1968 Rahman mengundurkan diri dari jabatan Direktur lembaga Riset Islam yang langsung di kabulkan oleh Ayyūb Khān.

Mengiringi penentangan yang semakin memuncak dari kalangan radisionalis-fundamentalis, menjelang akhir 1968 Fazlur Rahman mendapat tawaran untuk mengajar di Universitas California, Los Angeles.  Seketika itu, ia dan keluarganya hijrah ke sana. Berselang satu tahun, ia diangkat menjadi Guru Besar Pemikiran Islam di Universitas Chicago. Di sana, ia menyerahkan seluruh hidupnya untuk karir akademik. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan pribadinya yang bertempat di basement rumahnya di Naperville, kurang lebih 70 km dari University of Chicago. Beberapa saat sebelum wafat, Fazlur Rahman menyempatkan diri mengunjungi Indonesia (1985) dan tinggal selama 2 bulan, memperhatikan keberagamaan Islam Indonesia sekaligus memberikan kuliah di beberapa tempat. Akhirnya, pada tanggal 26 Juli 1988, Fazlur Rahman menghembuskan nafas terakhirnya di Chicago.

               Biografi Fazlur Rahman Khan    asa Kecil   Fazlur Rahman lahir pada tanggal 21 September 1919 di suatu daerah yang letaknya di Hazara sebelum terpecahnya India, kini merupakan bagian dari Pakistan. Fazlur Rahman dibesarkan dalam lingkungan yang mayoritas masyarakatnya menganut mazhab Hanafi. Mazhab Hanafi merupakan mazhab yang didasari al-Qur’an dan Sunnah, akan tetapi cara berfikirnya lebih rasional. Nampaknya faktor lingkungan cukup mempengaruhi pondasi pemikiran Fazlur Rahman yang juga rasional di dalam berfikirnya, meskipun ia mendasarkan pemikirannya pada al-Qur’an dan sunnah.  Pada masa kanak-kanak, Rahman mendapatkan pendidikan formal di Madrasah, di samping itu Rahman juga mendapatkan pembelajaran keislaman oleh ayahnya, Maulana Syaha>b al-Di>n (dalam referensi lainnya disebut Syiha>b al-Di>n), seorang Syaikh tradisional yang memiliki pandangan progresif. Rahman telah belajar diskursus-diskursus Islam semenjak dini, meliputi bahasa Arab, Persia, Retorika (Mantiq), hadis, tafsir, fiqh, dan sebagainya. Pada usia 10 tahun, Fazlur Rahman telah menamatkan hafalan Qur’an. Ini mencerminkan betapa ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang religious. Walaupun ia dibesarkan di lingkungan yang mempunyai pemikiran tradisional, hal ini tidak lantas menjadikan Rahman seperti layaknya pemikir tradisional yang anti modernitas, bahkan ayahnya berkeyakinan bahwa Islam harus memandang modernitas sebagai tantangan dan kesempurnaan.  Pendidikan   Setelah mempelajari ilmu-ilmu dasar

Diawal tahun 1960 an Fazlur Rahman dipanggil kembali ke Pakistan untuk memegang sebuah lembaga penelitian yaitu institute of Islamic Research di Karachi. Melalui lembaga ini Fazlur Rahman memprakarsai penerbitan Journal Islamic Studies yang hingga sekarang secara berkala masih terbit dan merupakan jurnal ilmiah bertaraf internasional.Tampaknya penunjukan Fazlur Rahman untuk mengepalai lembaga tersebut kurang mendapat restu dari kalangan ulama tradisional, karena menurut mereka, jabatan direktur lembaga tersebuit seharusnya merupakan hak privelese ekalusif ulama yang terdidik secara tradisional.Sementara Fazlur Rahman di anggap sebagai kelompok modernis dan telah banyak terkontaminasi dengan pikiran-pikiran barat.Dengan kondisi awal semacam ini, dapat dumaklumi, jika selama kepemimpinan Fazlur Rahman, Lembaga Riset selalu mendapat tantangan keras dari kalangan tradisionalis dan fundamentalis (neo revivalis).Ketegangan-ketegangan ini terus berlanjut dan ditambah dengan ketegangan politik antara ulama tradisional dengan pemerintah dibawah kepemimpinan Ayyub Khan, yang dapat digolongkan modernis, akhirnya Fazlur Rahman terpaksa hijrah dari Pakistan.

Hijrahnya Fazlur Rahman ke Barat kali ini ditampung sebagai tenaga pengajar di Universitas California, Los Angeles pada tahun 1968. Pada tahun 1969 ia diangkat menjadi professor dalam bidang pemikiran Islam Pada Universitas Chicago, dimana lembaga ini merupakan tempat terakhir dia bekerja hingga meninggal dunia pada tahun 1988. Selama bekerja dilembaga ini sebagai tenaga pengajar, dengan posisi sebagai pemimpin muslim modernis, Fazlur Rahman telah banyak member kontribusi pada ilmuwan muslim generasinya untuk member kepercayaan diri, baik melalui publikasi, konsultasi, dakwah dan kepada pemimpin agama dalam masyarakat muslim, terutama sekali melalui pengkaderan ilmuwan muda yang datang dari berbagai Negara untuk belajar dibawah asuhannya. Penting pula diketahui Fazrul Rahman adalah orang Islam peratama yang pernah diangkat menjadi seorang staf pada sekolah agama (Divinity School) dari Universitas Chikago. Ironisnya lagi dia adalah Muslim pertama yang menerima medali Georgia Levvi Della Vida yang sangat prestisius untukstudi peradaban Islam, dari Gustave E. Von Grunebaum Center for Near Eastern Studies UCLA (Universitas of California Los Angeles).


Karya-karya Fazlur Rohman


Karya-karya yang mula di tulis, selain disertai doktralnya tentang Ibnu sina adalah teks terjemahan ke dalam bahasa inggris di karya monumental IbnuSIna kitab an-Najat denagn judul Avicenna’s psychology (1952). Beberapa tahun kemudian Rahman menyunting karya Ibnu Sina lainnya Kitab An-Nafs dan di terbitkan dengan judul Avicenna’s De Anima (1959). Karya lain menjelang tahun 1960-an adalah propechy in Islam: philosophy Ortodoxy and (1956), Islamic Methodology in History (1965), Major Themes Of The Qur’an (1980), Islam and Modernitiy; Transpormation of an Intllectual Tradition (1982).
Load disqus comments

0 komentar