Sejarah Portsmouth FC - Biografi dan Sejarah

Our site moved here Sejarah dan Biografi

Wednesday, April 26, 2017

Sejarah Portsmouth FC

   Sejarah Portsmouth FC      Klub Portsmouth Inggris Kembali Bangkrut   Portsmouth: Klub Portsmouth kembali bangkrut. Klub dialihkan ke pihak administratur. Ini kejadian kedua kalinya dalam tiga tahun. Permohonan bangkrut dikabulkan Pengadilan Tinggi London, Jumat (17/2), setelah menunggak utang sekitar £4 juta. Perusahaan induk Portsmouth, Covers Sports Initiatives atau CSI, sudah dinyatakan bangkrut pada November tahun lalu. Dengan demikian, klub yang saat ini berada di Liga Championship, satu tingkat di bawah Liga Primer, akan mendapat sanksi pengurangan 10 angka. Namun bisa juga berkurang sampai 20 angka.  Dinas Pajak dan Cukai Inggris pada 3 Januari sudah menyampaikan petisi kepada Portsmouth dan membekukan rekening banknya. Portsmouth dilaporkan menunggak pajak sekitar £1,9 juta selain menanggung beban utang kepada para peminjam. Dengan dinyatakan bangkrut, maka pihak administratur akan mengelola semua rekening dan aset klub sambil mencari calon pemilik baru. Pihak peminjam yang memiliki piutang kepada Portsmouth antara lain sesama klub, seperti West Bromwich Albion, Wolverhampton Wanderers dan Bristol City maupun Dewan Kota Portsmouth.  Sementara perusahaan pemasok listrik dan gas dilaporkan mengancam pemutusan aliran listrik dan gas ke Stadion Fratton Park milik Portsmouth karena menunggak pembayaran. Portsmouth baru menapakkan kakinya di divisi 2 tatkala mereka menjuarai divisi 3

Klub Portsmouth Inggris Kembali Bangkrut


Portsmouth: Klub Portsmouth kembali bangkrut. Klub dialihkan ke pihak administratur. Ini kejadian kedua kalinya dalam tiga tahun. Permohonan bangkrut dikabulkan Pengadilan Tinggi London, Jumat (17/2), setelah menunggak utang sekitar £4 juta. Perusahaan induk Portsmouth, Covers Sports Initiatives atau CSI, sudah dinyatakan bangkrut pada November tahun lalu. Dengan demikian, klub yang saat ini berada di Liga Championship, satu tingkat di bawah Liga Primer, akan mendapat sanksi pengurangan 10 angka. Namun bisa juga berkurang sampai 20 angka.

Dinas Pajak dan Cukai Inggris pada 3 Januari sudah menyampaikan petisi kepada Portsmouth dan membekukan rekening banknya. Portsmouth dilaporkan menunggak pajak sekitar £1,9 juta selain menanggung beban utang kepada para peminjam. Dengan dinyatakan bangkrut, maka pihak administratur akan mengelola semua rekening dan aset klub sambil mencari calon pemilik baru. Pihak peminjam yang memiliki piutang kepada Portsmouth antara lain sesama klub, seperti West Bromwich Albion, Wolverhampton Wanderers dan Bristol City maupun Dewan Kota Portsmouth.

Sementara perusahaan pemasok listrik dan gas dilaporkan mengancam pemutusan aliran listrik dan gas ke Stadion Fratton Park milik Portsmouth karena menunggak pembayaran. Portsmouth baru menapakkan kakinya di divisi 2 tatkala mereka menjuarai divisi 3 di musim 1923-1924. Klub ini kemudian melanjutkan kesuksesannya dengan tampil mengesankan di divisi 2. Musim 1926-1927, mereka mencapai posisi runner up divisi 2 dan berhak atas promosi ke divisi satu. Perjalanan menuju runner up divisi 2 itu termasuk rekor kemenangan 9-1 atas Notts County.

Debut Portsmouth di divisi satu sangat berat, tapi mereka dengan tertatih mereka masih bisa bertahan. Musim 1928-1928, Portsmouth masih menjadi bulan-bulanan klub mapan, kekalahan terbesar mereka sampai sekarang terjadi pada musim itu tatkala mereka digunduli oleh Leicester dengan skor 0-10. Walaupun begitu, Portsmouth mulai menampakkan kemajuan penting selain bertahan di liga untuk musim keduanya, yaitu dengan maju ke final Piala FA untuk pertama kalinya biarpun akhirnya mereka kalah oleh Bolton. Setelah itu mereka masuk ke final Piala FA lagi untuk kedua kalinya pada musim 1933-1934. Musim 1938-1939, Portsmouth saat itu sudah mencapai kemajuan yang cukup besar yang akhirnya berbuah kala mereka maju ke final Piala FA untuk ketiga kalinya dan kali ini mereka sukses menekuk tim favorit juara, Wolves, dengan skor meyakinkan 4-1. Perang Dunia II lagi membuat semua kegiatan kehidupan terganggu, termasuk juga sepakbola. Pompey sebagai pemenang terakhir harus menyimpan baik-baik Piala FA selama perang sampai Piala FA mulai dipertandingkan kembali pada musim 1945-1946.


Pasca Perang Dunia II


Kompetisi liga Inggris dimulai kembali musim 1946-1947. Musim 1948-1949, Porstsmouth telah menjadi klub unggulan, mereka bahkan difavoritkan untuk menjadi tim pertama di abad 20 yang bisa mengawinkan gelar juara liga dan Piala FA dalam semusim.

Pada kenyataannya, Pompey gagal di semifinal Piala FA namun tidak demikian untuk liga. Di liga, mereka tak terbendung untuk menjuarainya dengan mulus. Di musim itu juga tercatat rekor penonton di kandang sebanyak 51.385 orang yang masih bertahan sampai sekarang.

Tahun berikutnya mereka mempertahankan gelar juara liga dan menjadi tim kelima di Inggris yang bisa mempertahankan gelar juara liga pasca Perang Dunia II. Pompey mulai mundur perlahan walaupun pada musim 1954-1955 mereka masih sanggup untuk duduk di posisi ke-3, dan puncaknya adalah kala mereka terdegradasi ke divisi 2 pada tahun 1959.


Periode 1960-2001


Pompey antara tahun 1960 sampai hampir 3 dekade ke depan benar-benar terperosok ke jurang divisi bawah. Kesulitan finansial yang nyaris menyebabkan bangkrut juga mereka alami di tahun 1976, ujung-ujungnya pemain bintang dijual. Klub kemudian harus diperkuat pemain-pemain muda tak berpengalaman dan ditangani manager debutan. Konsekuensinya, mereka terdegradasi sampai ke divisi 4 dua tahun berikutnya.

Pompey baru berhasil mencapai divisi satu lagi pada tahun 1987, kala mereka ditangani oleh Alan Ball. Sayangnya kala musim 1987-1988 telah separuh jalan, Portsmouth kembali dilanda kesulitan dana yang membuat mereka langsung terdegradasi lagi ke divisi 2. Musim panas 1988, chairman Pompey John Deacon menjual klubnya kepada pengusaha London yang juga mantan chairman QPR, Jim Gregory.

Milan MandaricPada musim panas 1996, Terry Venables datang ke Portsmouth sebagai konsultan, dan tidak beberapa lama kemudian Venables jua yang membeli Portsmouth hanya dengan harga £1. Kala itu mereka masih berada di divisi 2 dan kas klub memang berada di posisi mengkhawatirkan. Akhirnya, pada Mei 1999, Milan Mandaric (inset) datang untuk menyelamatkan klub. Mandaric pun mulai menginvestasikan uangnya demi kemajuan klub.

Harry Redknapp, mantan manager West Ham yang sukses besar membina pemain-pemain muda menjadi bintang (Rio Ferdinand, Frank Lampard, Joe Cole, Michael Carrick dll.), dikontak Mandaric untuk menjadi direktur sepakbola Portsmouth pada tahun 2001. Tetapi setelah Portsmouth tampil mengecewakan dibawah manager Graham Rix, Redknapp kemudian ditunjuk untuk menggantikannya.

Redknapp kemudian resmi menangani Portsmouth pada 2002 dengan Jim Smith (mantan manager Portsmouth sebelumnya) sebagai asistennya. Portsmouth pun akhirnya promosi ke Premier League pada musim pertama Redknapp menjadi manager. Harry Redknapp I Di Premiership, Portsmouth tampil cukup baik dan bisa bertahan di divisi dengan iklim persaingan sangat ketat. Pompey menduduki peringkat ke 13 Premiership. Namun saat itu muncul perselisihan paham antara Redknapp dengan pemilik klub, Milan Mandaric. Mandaric kurang menyukai penunjukan Jim Smith oleh Redknapp sebagai asisten manager, Redknapp pun kemudian tidak menyukai keputusan Mandaric untuk mendatangkan Velimir Zajec sebagai Direktur Sepakbola Portsmouth. Puncaknya adalah Redknapp mengundurkan diri pada November 2004, Southampton yang sedang mencari manager kemudian langsung memanfaatkan situasi dengan mengontak Redknapp untuk menjadi manager mereka. Redknapp pun menerima pinangan klub yang notabene merupakan musuh bebuyutan dari Pompey. Ia resmi menjadi manager Southampton hanya selang beberapa minggu ia mundur dari Portsmouth.

   Sejarah Portsmouth FC      Klub Portsmouth Inggris Kembali Bangkrut   Portsmouth: Klub Portsmouth kembali bangkrut. Klub dialihkan ke pihak administratur. Ini kejadian kedua kalinya dalam tiga tahun. Permohonan bangkrut dikabulkan Pengadilan Tinggi London, Jumat (17/2), setelah menunggak utang sekitar £4 juta. Perusahaan induk Portsmouth, Covers Sports Initiatives atau CSI, sudah dinyatakan bangkrut pada November tahun lalu. Dengan demikian, klub yang saat ini berada di Liga Championship, satu tingkat di bawah Liga Primer, akan mendapat sanksi pengurangan 10 angka. Namun bisa juga berkurang sampai 20 angka.  Dinas Pajak dan Cukai Inggris pada 3 Januari sudah menyampaikan petisi kepada Portsmouth dan membekukan rekening banknya. Portsmouth dilaporkan menunggak pajak sekitar £1,9 juta selain menanggung beban utang kepada para peminjam. Dengan dinyatakan bangkrut, maka pihak administratur akan mengelola semua rekening dan aset klub sambil mencari calon pemilik baru. Pihak peminjam yang memiliki piutang kepada Portsmouth antara lain sesama klub, seperti West Bromwich Albion, Wolverhampton Wanderers dan Bristol City maupun Dewan Kota Portsmouth.  Sementara perusahaan pemasok listrik dan gas dilaporkan mengancam pemutusan aliran listrik dan gas ke Stadion Fratton Park milik Portsmouth karena menunggak pembayaran. Portsmouth baru menapakkan kakinya di divisi 2 tatkala mereka menjuarai divisi 3

Sepeninggal Redknapp, Mandaric lantas menunjuk Direktur Sepakbola mereka, Valimir Zajec, untuk menjadi caretaker posisi manager yang lowong. Lima bulan kemudian Mandaric mendatangkan Alain Perrin, mantan manager Marseille, untuk menjadi manager dan Zajec dikembalikan ke posisinya semula sebagai Direktur Sepakbola. Musim 2004-2005, Portsmouth yang ditangani Perrin hanya di saat-saat terakhir liga, bertahan di Premiership setelah duduk di posisi 16. Memasuki musim 2005 2006, pada bulan Oktober 2005 justru Zajec yang menyatakan mundur dari posisi Direktur Sepakbola Portsmouth. Sebulan kemudian tepatnya 24 November 2005, giliran Perrin yang dipecat karena Portsmouth tampil begitu mengecewakan, hanya mampu menang 4 kali dari 20 laga 
Load disqus comments

0 komentar