Sejarah Berdirinya SS Lazio - Biografi dan Sejarah

Our site moved here Sejarah dan Biografi

Thursday, May 18, 2017

Sejarah Berdirinya SS Lazio

  Sejarah Berdirinya SS Lazio            Warna Simbol dan Julukan   Warna Lazio terdiri dari putih dan biru langit yang terinspirasi oleh simbol negara Yunani, karena fakta bahwa Lazio adalah perkumpulan berbagai cabang olah raga sebagai pengakuan terhadap Olimpiade yang terkait tradisi olah raga Eropa terhadap Yunani. Pada awalnya Lazio mengenakan kostum yang terbagi atas warna putih dan biru langit yang saling berpotongan dengan celana dan kaus kaki hitam. Setelah itu Lazio mengenakan kostum dengan warna putih untuk jangka waktu pendek, kemudian mengubah warna seperti warna yang digunakan saat ini. Pada musim kompetisi lain Lazio mengenakan kostum dengan warna biru langit dan strip putih, tapi pada umumnya menggunakan warna biru langit dengan warna putih tipis, serta celana putih dan kaos kaki puih. The club's colours have led to their Italian nickname of biancocelesti.  Simbol Lazio secara tradisi adalah elang, yang dipilih oleh pendiri Lazio, yaitu Luigi Bigiarelli. Simbol elang diketahui sebagai emblem dari tentara Kekaisaran Romawiyang dikenal dengan Aquila; Legiun Romanwi membawa simbol elang ini ketika berperang. Lazio dengan simbolnya mendapatkan julukan; le Aquile (Si Elang) dan Aquilotti (Si Elang Muda). Simbol klub saat ini menampilkan elang emas diatas perisai putih dengan gari

Warna Simbol dan Julukan


Warna Lazio terdiri dari putih dan biru langit yang terinspirasi oleh simbol negara Yunani, karena fakta bahwa Lazio adalah perkumpulan berbagai cabang olah raga sebagai pengakuan terhadap Olimpiade yang terkait tradisi olah raga Eropa terhadap Yunani. Pada awalnya Lazio mengenakan kostum yang terbagi atas warna putih dan biru langit yang saling berpotongan dengan celana dan kaus kaki hitam. Setelah itu Lazio mengenakan kostum dengan warna putih untuk jangka waktu pendek, kemudian mengubah warna seperti warna yang digunakan saat ini. Pada musim kompetisi lain Lazio mengenakan kostum dengan warna biru langit dan strip putih, tapi pada umumnya menggunakan warna biru langit dengan warna putih tipis, serta celana putih dan kaos kaki puih. The club's colours have led to their Italian nickname of biancocelesti.


Simbol Lazio secara tradisi adalah elang, yang dipilih oleh pendiri Lazio, yaitu Luigi Bigiarelli. Simbol elang diketahui sebagai emblem dari tentara Kekaisaran Romawiyang dikenal dengan Aquila; Legiun Romanwi membawa simbol elang ini ketika berperang. Lazio dengan simbolnya mendapatkan julukan; le Aquile (Si Elang) dan Aquilotti (Si Elang Muda). Simbol klub saat ini menampilkan elang emas diatas perisai putih dengan garis biru; dalam perisai terdapat nama klub dan perisai tripartit kecil dengan warna dari klub.

Pada dekade 1950an, Lazio berada dalam masa naik-turun dengan kemenangan Piala Italia pada 1958. Lazio terdegradasi buat pertama kali pada 1961 ke Serie B, tetapi kembali ke level tertinggi dua tahun kemudian. Setelah beberapa kali mengakhiri musim di papan tengah, mereka terdegradasi kembali pada 1970-71. Kembali ke Serie A pada 1972-73, Lazio langsung menjadi penantang utama Milan dan Juventus dalam rangka mengejar scudetto, hanya kalah di hari terakhir musim tersebut, dengan tim bermaterikan kapten Giuseppe Wilson, dan juga Luciano Re Cecconi, Mario Frustalupi, penyerang Giorgio Chinaglia dan pelatih Tommaso Maestrelli. Lazio memenangi liga pada 1973-74. Namun begitu, kematian tragis Re Cecconi dan Maestrelli, dan juga kepergian Chinaglia, kontan melemahkan tim.

Kebangkitan Bruno Giordano di periode tersebut sedikit melegakan dan ia mengakhiri musim sebagai pencetak gol terbanyak di liga pada 1979, saat Lazio menduduki peringkat 8 klasemen akhir. Lazio dihukum degradasi ke Serie B pada 1980 karena skandal perjudian bersama Milan. Mereka terpuruk di divisi kedua selama tiga musim, yang diingat sebagai salah satu masa terkelam dalam sejarah Lazio. Klub kembali ke divisi tertinggi pada 1983 dan selamat dari degradasi pada musim selanjutnya. Musim 1984-85 sangat buruk: mereka menyelesaikan musim dengan 15 poin dan menjadi juru kunci klasemen. Pada 1986, poin Lazio di liga dikurangi sembilan karena skandal perjudian yang melibatkan pemain mereka, Claudio Vinazzani. Perjuangan keras menghindari degradasi diikuti musim yang sama di Serie B, dipimpin Eugenio Fascetti sukses terhindar dari degradasi ke Serie C setelah mengalahkan tim seperti Taranto dan Campobasso. Ini adalah titik balik sejarah klub, dengan Lazio kembali ke divisi puncak pada 1988, dan dibawah pengurusan keuangan yang amat berhati-hati Gianmarco Calleri, klub berhasil bertahan dan mematenkan diri sebagai klub divisi atas.

Kedatangan Sergio Cragnotti pada 1992, mengubah sejarah klub tersebut karena investasi jangka panjangnya di para pemain baru untuk menjadikan Lazio sebagai klub penantangscudetto. Cragnotti berturut-turut memecahkan rekor transfer untuk pemain yang ia anggap sebagai bintang utama, Juan Sebastian Veron seharga £18 juta, Christian Vieri seharga £19 juta dan memecahkan rekor transfer dunia dengan membeli Hernan Crespo dari Parma seharga £35 juta. Lazio menjadi runners-up Serie A pada 1995, peringkat ketiga pada 1996, peringkat empat pada 1997 dan hanya terpisah satu poin dari Milan di laga terakhir liga pada 1999. Pemain-pemain seperti Siniša Mihajlović (kini melatih Sampdoria), Alessandro Nesta, Marcelo Salas, Roberto Mancini (mantan pelatih Intermilan, Manchester City dan kini melatih Galatasaray), Diego Simeone (kini melatih Atletico Madrid), Mattias Almeyda (kini melatih klub argentina, Banfield), Simone Inzaghi (kini melatih tim Primavera Lazio) dan Pavel Nedvěd (kini menjabat sebagai Direktur olahraga Juventus) di tim utama, akhirnya memenangi scudetto kedua pada 2000, dan juga memenangi Piala Italia, dengan Alesandro Nesta sebagai Kapten dan Sven-Göran Eriksson sebagai pelatih mereka. Lazio kembali memenangi Piala Italia pada 1998 dan 2004, dua Piala Super Italia, dan juga edisi terakhir Piala Winners UEFA pada 1999. Mereka juga mencapai final Piala UEFA pada 1999, tetapi takluk 0-3 dari Inter Milan. Skuat penuh bintang ini juga memenangi Piala Super Eropa pada 1999 setelah mengalahkan Manchester United.

Meskipun begitu, pada 2002, sebuah skandal keuangan melibatkan Cragnotti dan perusahaan makanan multinasional, Cirio, memaksanya meninggalkan klub, dan Lazio dikontrol oleh manajer keuangan sementara dan bank. Hal ini memaksa klub untuk menjual pemain bintang dan bahkan menjual kapten Alessandro Nesta. Pada 2004, pengusaha Claudio Lotitomembeli mayoritas saham klub. Pada 2006, mereka lolos ke Piala UEFA dibawah pelatih Delio Rossi. Meskipun begitu, klub dilarang tampil di kompetisi Eropa karena skandal pengaturan skor.

Pada 2006-07, meskipun terkena pengurangan poin, Lazio sukses meraih peringkat ketiga Serie A, dan lolos ke babak kualifikasi Liga Champions UEFA, dimana mereka sukses menekuk Dinamo Bucureşti dan melaju ke fase grup, berakhir di peringkat keempat di grup yang terdiri atas Real Madrid, Werder Bremen dan Olympiacos. Di liga sendiri, Lazio terseok-seok dan berakhir di peringkat ke-12. Pada 2008-09, klub memenangi Piala Italia kelima mereka, mengalahkan Sampdoriadi final. Lazio memulai musim 2009-10 dengan memenangi Piala Super Italia di Beijing, mengalahkan Inter 2-1 lewat gol Matuzalémdan Tommaso Rocchi Ditahun 2013 Lazio tampil sebagai coppa italia dengan mengalahkan As Roma 0-1. Juni tahun 2011 Lazio kembali mendatangkan bintang, yakni Mirolav Klose dan Djibril Cisse. dua pemain gaek ini menjadi ujung tombak lazio. Klose mampu menjadi idola baru untuk para Curva Nord Lazio melalui Gol-golnya, berbeda dengan Cisse yang hanya mampu memberikan 2 Gol yang membuatnya harus pergi ke Queens Park Rangers pada pertengahan musim sementara klose terus berkontribusi melalui gol demi gol yang dia ciptakan.

Tahun 2013 adalah masa kebangkitan Lazio dan menjadi tahun yang bersejarah bagi tim tersebut dengan menjuarai Coppa Italia setelah melakoni laga final yang merangkap DERBY DELLA CAPITALE, dimana laga tersebut kedua tim pertama kali melakoni derby di laga final Coppa italia. dalam laga yang penuh emosi tersebut Lazio berhasil mengalahkan tim Rivalnya dengan skor tipis 0 1 melalui gol dari Senad lulic di menit '71. tak ayal pemain tersebut menjadi pemain pujaan bagi fans Lazio atas gol yang sangat berharga bagi tim. Musim 2013 - 2014 menjadi musim yang buruk bagi Lazio dimana klub tersebut hanya mampu finish di peringkat 9 klasemen akhir dengan 56 Poin dari 38 pertandingan (15 kali menang, 11 imbang dan 12 kali kalah) terpaut 1 Poin dari AC Milan yang berada 1 tingkat diatasnya dan 46 Poin dari juara bertahan Juventus yang mengoleksi 102 Poin.

  Sejarah Berdirinya SS Lazio            Warna Simbol dan Julukan   Warna Lazio terdiri dari putih dan biru langit yang terinspirasi oleh simbol negara Yunani, karena fakta bahwa Lazio adalah perkumpulan berbagai cabang olah raga sebagai pengakuan terhadap Olimpiade yang terkait tradisi olah raga Eropa terhadap Yunani. Pada awalnya Lazio mengenakan kostum yang terbagi atas warna putih dan biru langit yang saling berpotongan dengan celana dan kaus kaki hitam. Setelah itu Lazio mengenakan kostum dengan warna putih untuk jangka waktu pendek, kemudian mengubah warna seperti warna yang digunakan saat ini. Pada musim kompetisi lain Lazio mengenakan kostum dengan warna biru langit dan strip putih, tapi pada umumnya menggunakan warna biru langit dengan warna putih tipis, serta celana putih dan kaos kaki puih. The club's colours have led to their Italian nickname of biancocelesti.  Simbol Lazio secara tradisi adalah elang, yang dipilih oleh pendiri Lazio, yaitu Luigi Bigiarelli. Simbol elang diketahui sebagai emblem dari tentara Kekaisaran Romawiyang dikenal dengan Aquila; Legiun Romanwi membawa simbol elang ini ketika berperang. Lazio dengan simbolnya mendapatkan julukan; le Aquile (Si Elang) dan Aquilotti (Si Elang Muda). Simbol klub saat ini menampilkan elang emas diatas perisai putih dengan gari


Perjalanan SS LAZIO


Società Podistica Lazio didirikan pada 9 Januari 1900 di distrik Prati di Roma. Lazio secara resmi meluncurkan cabang sepak bolanya pada tanggal 9 Januari 1910. Pemilihan nama klub sendiri tidak menggunakan nama Kota asal tim tersebut, seperti yang dilakukan AC Milan, AS Roma, Genoa, dan Palermo, melainkan menggunakan nama Regional LAZIO, Regional Lazio membawahi 5 propinsi yaitu Propinsi Frosinnone, Propinsi Latina, Propinsi Rieti, Propinsi Viterbo dan Propinsi Roma. Kota Roma dipilih sebagai lokasi pendeklarasian dan kantor pusat, karena Kota Roma adalah ibukota Dan memang pada kenyataannya, SS Lazio membawahi aktivitas semua cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade, dan beraktivitas meliputi kelima propinsi di regional Lazio, tidak hanya di Roma.

Bergabung dengan liga pada 1912 segera setelah Federasi Sepak Bola Italia mulai mengorganisir kejuaraan di bagian selatan dan tengah Italia, dan mencapai play-off final kejuaraan nasional tiga kali, tetapi tak pernah menang.Pada 1927, Mario Azzi adalah satu-satunya klub asal Roma yang bertahan dari percobaan rezim Fasis Bennito Mussolini untuk menggabungkan semua klub sepak bola di kota tersebut yang kini menjadi A.S. Roma. Klub bermain di musim pertama Serie A pada 1929, dipimpin penyerang legendaris Silvio Piola, mencapai peringkat kedua di klasemen akhir pada 1937 - hasil terbaik sebelum perang.


Suporter


Lazio adalah klub sepak bola dengan suporter pendukung terbanyak keenam di seluruh Italia dengan presentase 2% pendukung di seluruh Italia (berdasarkan penelitian dari la Repubblica pada Agustus 2008). Para pendukung utama Lazio terutama berdomisili di utara kota Roma.Irriducibili Lazio yang didirikan pada tahun 1987 adalah sebuah wadah untuk suporter fanatik dari klub Lazio yang terbesar dan terbanyak anggotanya di Italia, tapi selam musim 2009/10 Banda Noantri mengambil alih kepemimpinan atas Curva Nord. Pada setiap pertandingan ultras Lazio menampilkan gaya mendukung dari pendukung Inggris dengan mengadopsi setiap cara mendukungnya. Khusus untuk Derby della Capitale ultras Lazio menampilkan gaya tradisional pendukung ultras Italia.


Rivalitas


Lazio memiliki rivalitas dengan tim sekota yakni A.S. Roma. Lazio dan A.S. Roma menjalani partai derby yang disebut dengan derby della capitalle ("derby antara tim ibukota"). Pertandingan dengan A.S. Roma dalam Derby Della Capitalle selalu penuh gengsi dan menghadirkan sebuah partai yang seru, untuk membuktikan tim terkuat yang ada di ibukota Italia, Roma serta sebagai salah satu derby sepak bola terbesar di dunia.Selain dengan AS Roma, Lazio memiliki rivalitas dengan klub Italia lainnya, yaitu Livorno yang disebabkan oleh perbedaan pandangan politik dari pendukung dan pemimpin klub masing-masing. Selain itu, Lazio juga memiliki rival lain, yaitu dengan Napoli. Pendukung Lazio, selain memiliki rival juga memiliki teman dan kedekatan dengan pendukung tim lain, yaitu dengan Inter Milan, Triestina, dan Hellas Verona. Selain memiliki teman dan kedekatan dengan pendukung tim lain di Italia, Lazio juga memilikinya di Eropa, yaitu dengan suporter Real Madrid, Espanyol, Levski Sofia, Norwich City dan Chelsea.


Statistik dan Rekor


Giuseppe Favalli memegang rekor penampilan resmi bersama Lazio dengan 401 penampilan dalam 12 tahun tampil bersama Lazio dari tahun 1992 hingga 2004. Rekor untuk kiper Luca Marchegiani, dengan 229 penampilan, sementara rekor untuk penampilan liga dipegang oleh Aldo Puccinelli dengan 339 penampilan. Silvio Piola menjadi pencetak gol terbanyak dengan 148 gol.[16] Piola telah bermain bersama Pro Vercelli, Torino, Juventus dan Novara, juga sebagai pencetak gol terbanyak dalam sejarah Serie A dengan 274 gol. Simone Inzaghi pencetak gol terbanyak Lazio di kompetisi Eropa dengan 20 gol. Ia juga salah satu dari lima pesepak bola yang dapat mencetak empat gol dalam satu partai di Liga Champions UEFA. Tommaso Rocchi saat ini menjadi pencetak gol terbanyak untuk Lazio.Partai Lazio melawan Foggia pada 12 Mei 1974 menjadi partai dengan penonton terbanyak dengan 80.000 penonton, partai ini adalah partai penganugerahan Scudetto pertama Lazio. Partai ini juga menjadi rekor penonton terbanyak untuk Stadion Olimpico, termasuk dengan partai A.S. Roma dan Tim nasional sepak bola Italia.


Prestasi


2 Serie A

1973/1974

1999/2000

5 Piala Italia


1958

1997/1998

1999/2000

2003/2004

2008/2009


3 Piala Super Italia


1998

2000

2009


1 Piala Winners


1998/1999

1 Piala Super Eropa


1999


1 Serie B


1968/1969
Load disqus comments

0 komentar