Wednesday, July 5, 2017

Sejarah Depok

Visit Pusat Bet

 Sejarah Depok       Dulu, Pondok Cina hanyalah hamparan perkebunan dan semak-semak belantara yang bernama Kampung Bojong. Awalnya hanya sebagai tempat transit pedagang-pedagang Tionghoa yang hendak berjualan di Depok. Lama kelamaan menjadi pemukiman, yang kini padat sebagai akses utama Depok-Jakarta. Kota Madya Depok (dulunya kota administratif) dikenal sebagai penyangga ibukota. Para penghuni yang mendiami wilayah Depok sebagian besar berasal dari pindahan orang Jakarta. Tak heran kalau dulu muncul pomeo singkatan Depok : Daerah Elit Pemukiman Orang Kota. Mereka banyak mendiami perumahan nasional (Perumnas), membangun rumah ataupun membuat pemukiman baru. Pada akhir tahun 70-an masyarakat Jakarta masih ragu untuk mendiami wilayah itu.  Selain jauh dari pusat kota Jakarta, kawasan Depok masih sepi dan banyak diliputi perkebunan dan semak belukar. Angkutan umum masih jarang, dan mengandalkan pada angkutan kereta api. Seiring dengan perkembangan zaman, wajah Depok mulai berubah. Pembangunan di sana-sini gencar dilakukan oleh pemerintah setempat. Pusat hiburan seperti Plaza, Mall telah berdiri megah. Kini Depok telah menyandang predikat kotamadya dimana selama 17 tahun menjadi Kotif.  Sebagai daerah baru, Depok menarik minat pedagang-pedagang Tionghoa untuk berjualan di sana. Namun Cornelis Chastelein pernah membuat peraturan bahwa orang-orang Cina tidak boleh tinggal di kota Depok. Mereka hanya


Dulu, Pondok Cina hanyalah hamparan perkebunan dan semak-semak belantara yang bernama Kampung Bojong. Awalnya hanya sebagai tempat transit pedagang-pedagang Tionghoa yang hendak berjualan di Depok. Lama kelamaan menjadi pemukiman, yang kini padat sebagai akses utama Depok-Jakarta. Kota Madya Depok (dulunya kota administratif) dikenal sebagai penyangga ibukota. Para penghuni yang mendiami wilayah Depok sebagian besar berasal dari pindahan orang Jakarta. Tak heran kalau dulu muncul pomeo singkatan Depok : Daerah Elit Pemukiman Orang Kota. Mereka banyak mendiami perumahan nasional (Perumnas), membangun rumah ataupun membuat pemukiman baru. Pada akhir tahun 70-an masyarakat Jakarta masih ragu untuk mendiami wilayah itu. Selain jauh dari pusat kota Jakarta, kawasan Depok masih sepi dan banyak diliputi perkebunan dan semak belukar. Angkutan umum masih jarang, dan mengandalkan pada angkutan kereta api. Seiring dengan perkembangan zaman, wajah Depok mulai berubah. Pembangunan di sana-sini gencar dilakukan oleh pemerintah setempat. Pusat hiburan seperti Plaza, Mall telah berdiri megah. Kini Depok telah menyandang predikat kotamadya dimana selama 17 tahun menjadi Kotif.


Sebagai daerah baru, Depok menarik minat pedagang-pedagang Tionghoa untuk berjualan di sana. Namun Cornelis Chastelein pernah membuat peraturan bahwa orang-orang Cina tidak boleh tinggal di kota Depok. Mereka hanya boleh berdagang, tapi tidak boleh tinggal. Ini tentu menyulitkan mereka. Mengingat saat itu perjalanan dari Depok ke Jakarta bisa memakan waktu setengah hari, pedagang-pedagang tersebut membuat tempat transit di luar wilayah Depok, yang bernama Kampung Bojong. Mereka berkumpul dan mendirikan pondok-pondok sederhana di sekitar wilayah tersebut. Dari sini mulai muncul nama Pondok Cina. Menurut cerita H. Abdul Rojak, sesepuh masyarakat sekitar Pondok Cina, daerah Pondok Cina dulunya bernama Kampung Bojong. “Lama-lama daerah ini disebut Kampung Pondok Cina. Sebutan ini berawal ketika orang-orang keturunan Tionghoa datang untuk berdagang ke pasar Depok. Pedagang-pedagang itu datang menjelang matahari terbenam. Karena sampainya malam hari, mereka istirahat dahulu dengan membuat pondok-pondok sederhana,” ceritanya. Kebetulan, lanjut Rojak, di daerah tersebut ada seorang tuan tanah keturunan Tionghoa. Akhirnya mereka semua di tampung dan dibiarkan mendirikan pondok di sekitar tanah miliknya. Lalu menjelang subuh orang-orang keturunan Tionghoa tersebut bersiap-siap untuk berangkat ke pasar Depok.” Kampung Bojong berubah nama menjadi kampung Pondok Cina pada tahun 1918. Masyarakat sekitar daerah tersebut selalu menyebut kampung Bojong dengan sebutan Pondok Cina. Lama-kelamaan nama Kampung Bojong hilang dan timbul sebutan Pondok Cina sampai sekarang. Masih menurut cerita, Pondok Cina dulunya hanya berupa hutan karet dan sawah. Yang tinggal di daerah tersebut hanya berjumlah lima kepala keluarga, itu pun semuanya orang keturunan Tionghoa. Selain berdagang ada juga yang bekerja sebagai petani di sawah sendiri. Sebagian lagi bekerja di ladang kebun karet milik tuan tanah orang-orang Belanda. Semakin lama, beberapa kepala keluarga itu pindah ke tempat lain. Tak diketahui pasti apa alasannya. Yang jelas, hanya sisa satu orang keluarga di sana. Hal ini dikatakan oleh Ibu Sri, generasi kelima dari keluarga yang sampai kini masih tinggal di Pondok Cina.

“Saya sangat senang tinggal disini, karena di sini aman, tidak seperti di tempat lain,”. Dulunya, cerita Sri, penduduk di Pondok Cina sangat sedikit. Itupun masih terbilang keluarga semua. “Mungkin karena Depok berkembang, daerah ini jadi ikut ramai,” kenangnya. Satu-persatu keluarganya mulai pindah ke tempat lain. “Tinggal saya sendiri yang masih bertahan disini,” kata ibu Sri lagi. Sekarang daerah Pondok Cina sudah semakin padat. Ditambah lagi dengan berdirinya kampus UI Depok pada pertengahan 80-an, di kawasan ini banyak berdiri rumah kost bagi mahasiswa. Toko-toko pun menjamur di sepanjang jalan Margonda Raya yang melintasi daerah Pondok Cina ini. Bahkan pada jam-jam berangkat atau pulang kerja, jalan Margonda terkesan semrawut. Maklum, karena itu tadi, pegawai maupun karyawan yang tinggal di Depok mau tak mau harus melintas di Pondok Cina.


Jalan Kuno


Jalan kuno semasa era Pakuan-Padjadjaran dari Pakuan ke Soenda Kalapa besar dugaan mengikuti rute sisi barat sungai Tjiliwong. Hal ini karena tidak akan pernah menyeberangi sungai Tjiliwong. Pelabuhan Soenda Kalapa sendiri berada di sisi barat sungai Tjiliwong. Sementara Kota Batavia berada di sisi timur sungai Tjiliwong. Dari sisi timur sungai Tjiliwong di Weltevreden (kini Gambrir) Cornelis Chastelein dan Abraham van Riebeek dengan kuda mengikuti sisi timur sungai Tjiliwong hingga ke Tjililitan (atau dengan perahu mengikuti sungai Tjiliwong ke Tjililitan). Dari (pelabuhan Tjililitan) dengan kuda atau perahu ke (pelabuhan) terjauh di pedalaman di Pondok Tjina. Tidak jauh dari pelabuhan di Pondok Tjina terdapat lahan Cornelis Chastelein di Depok. Abraham van Riebeek mulai dari Pondok Tjina melanjutkan ekspedisi sepanjang sisi barat sungai Tjiliwong hingga ke Fort Padjadjaran.

Jalan kuno (sejak era Padjadjaran) dari sisi barat sungai Tjiliwong besar kemungkinan mengikuti jalan raya yang sekarang. Jalan kuno ini melewati tempat-tempat sebagai berikut: Pakuan, Kedoeng Badak, Tjiliboet, Bodjong Gede, Pondok Terong, Depok, Pondok Tjina, K(lenteng) Agoeng, Pasar Minggoe, Tjikinie dan Soenda Kalapa. Sedangkan jalan kuno dari sisi timur sungai Tjiliwong besar kemungkinan jalan raya yang sekarang. Jalan kuno ini melewati tempat-tempat sebagai berikut: Tadjoer, Parakan (kini Bantar Jati), Baranang Siang, Babakan, Kedong Halang, Tjiloear, Tjibinong, Tjimanggis, Tandjoeng (Pasar Rebo) dan Tjililitan. Titik interchange sungai Tjiliwong diantara Soenda Kalapa (pelabuhan) dan Pakuan-Padjadjaran (di Katoelampa/Tadjoer) adalah di Moeara Beres di Bodjong Gede (Arab/Moor), Pondok Tjina (Tionghoa) dan Tjililitan (Tionghoa). Interchange Pondok Tjina juga besar kemungkinan adalah pertemuan jalan kuno timur-barat. Ke arah barat melalui jalan Stasion Pondok Tjina sekarang ke Tjinere (lalu ke Tangerang/Banten).


Perkembangan Jalan Sisi Timur Tjiliwong


Sejak Cornelis Chastelein dengan status kepemilikan lahan pribadi atau tanah partikelir (landerien) dan membuka lahan di Depok, kepemilikan lahan pribadi semakin meluas di sepanjang sisi barat maupun timur sungai Tjiliwong hingga ke Pakuan-Padjadjaran. Perkembangan moda transportasi lebih baik di sisi timur sungai Tjiliwong apalagi setelah villa Gubernur Jenderal VOC dibangun di Pakuan-Padjadjaran. Gubernur Jenderal VOC van Imhoff pada tahun 1745 membangun villa di lokasi dimana Fort Padjadjaran berada (Istana Bogor yang sekarang). Sejak itu kualitas jalan kuno sisi timur sungai Tjiliwong semakin baik. Jembatan yang dibangun pertama dibuat di atas sungai Tjiliwong di Warung Jambu yang sekarang. Dari jembatan ini menanjak melalui jalan Ahmad Yani yang sekarang hingga ke Air Mancur dan kemudian menuju Fort Padjadjaran (villa Gubernur Jenderal VOC).

Jalan kuno sisi barat Tjiliwong semakin tertinggal. Semakin tertinggal karena sisi barat lebih tidak aman dibanding sisi timur (sebab pada tahun 1750 Banten menyerang villa Gubernur Jenderal di Buitenzorg dan menghancurkannya). Villa dibangun kembali, pertahanan semakin diperkuat dengan meningkatkan status benteng (fort) menjadi garnisun militer di Pakuan Padjadjaran. Prospek pengembangan koffikultuur ke lereng gunung Salak, gunung Pangrango (dan kelak ke Preanger) menyebabkab sisi timur sungai Tjliwong terus berkembang. Jalan raya sisi timur sungai Tjiliwong terus meningkat kualitasnya. Jalan ini kelak pada era Pemerintah Hindia Belanda yang dimulai tahun 1800 (setelah VOC bubar) menjadi jalan pos trans-Java (dari Anjer hingga Panaroekan via Buitenzorg). Sebagai jalan pos, maka, jalan ini menjadi sangat ramai tidak hanya barang-barang pos tetapi arus orang dan arus barang. Pada titik tertentu dibangun pos yang mana pos ini menjadi interchange baru dimana di lokasi pos ini terjadi bongkar-muat barang-barang pos (semacam kantor pos) juga menjadi tempat peristirahatan kereta pos dan munculnya keramaian (pasar sekitar). Dari Batavia ke Buitenzorg pos-pos tersebut adalah sebagai berikut: Bidara Tjina (pos pertama dari Batavia), Tandjong (Pasar Rebo yang sekarang), Tjimanggis, Tjibinong, Tjiloear (pos pertama dari Buitenzorg). Dari pos-pos inilah barang-barang pos keluar (dikirim ke tujuan) dan pos masuk (didistribusikan di sekitar). Pos terdekat dari Depok adalah pos Tjimanggis. Jalan akses dari dan ke Tjimanggis melalui (perlintasan) sungai Tjiliwong di Pondok Tjina. Peta 1818

 Sejarah Depok       Dulu, Pondok Cina hanyalah hamparan perkebunan dan semak-semak belantara yang bernama Kampung Bojong. Awalnya hanya sebagai tempat transit pedagang-pedagang Tionghoa yang hendak berjualan di Depok. Lama kelamaan menjadi pemukiman, yang kini padat sebagai akses utama Depok-Jakarta. Kota Madya Depok (dulunya kota administratif) dikenal sebagai penyangga ibukota. Para penghuni yang mendiami wilayah Depok sebagian besar berasal dari pindahan orang Jakarta. Tak heran kalau dulu muncul pomeo singkatan Depok : Daerah Elit Pemukiman Orang Kota. Mereka banyak mendiami perumahan nasional (Perumnas), membangun rumah ataupun membuat pemukiman baru. Pada akhir tahun 70-an masyarakat Jakarta masih ragu untuk mendiami wilayah itu.  Selain jauh dari pusat kota Jakarta, kawasan Depok masih sepi dan banyak diliputi perkebunan dan semak belukar. Angkutan umum masih jarang, dan mengandalkan pada angkutan kereta api. Seiring dengan perkembangan zaman, wajah Depok mulai berubah. Pembangunan di sana-sini gencar dilakukan oleh pemerintah setempat. Pusat hiburan seperti Plaza, Mall telah berdiri megah. Kini Depok telah menyandang predikat kotamadya dimana selama 17 tahun menjadi Kotif.  Sebagai daerah baru, Depok menarik minat pedagang-pedagang Tionghoa untuk berjualan di sana. Namun Cornelis Chastelein pernah membuat peraturan bahwa orang-orang Cina tidak boleh tinggal di kota Depok. Mereka hanya

Sejak adanya jalan pos trans-Java, sisi barat sungai Tjiliwong hampir tidak tersentuh dan para tuan tanah (landerien) tetap mengandalkan jalan-jalan kuno yang masih ada. Mungkin ada perbaikan kualitas tetapi tidak sebaik di sisi timur. Rute jalan sisi barat sungai Tjiliwong ini dapat kita sebut lagi sebagai berikut: Batavia, Bidara Tjina, Tjililitan, Pasar Minggoe, Lenteng Agoeng, Sringsing, Pondok Tjina, Depok, Pondok Terong, Paboearan, Bamboe Koening, Bodjonggede, Tjiliboet, Kedongbadak, Air Mancur dan Buitenzorg. Interchange Tjililitan mulai ditinggalkan karena di Meester Cornelis (kini Djatinegara) dibangun jembatan di atas sungai Tjiliwong (jalan Slamet Riyadi yang sekarang). Akibatnya, rute dari Depok ke Batavia melalui Pasar Minggoe, Kalibata, Cawang, Tebet dan Manggarai. Jembatan ini merupakan jembatan kedua di luar Batavia yang sudah dibangun di atas sungai Tjiliwong (yang pertama di Buitenzorg). Pembangunan jembatan permanen ini terkait dengan semakin berkembangnya perkebunan di sisi barat sungai Tjiliwong. Jaringan jalan di sisi barat sungai Tjiliwong semakin terintegrasi antara satu landerien (tanah partikelir) dengan landerien yang lain. Dua interchange yang terpenting di sisi barat sungai Tjiliwong adalah Parong dan Pasar Minggoe. Peta 1840 Jalan kuno (eks Pakuan-Soenda Kalapa) di sisi barat Tjiliwong semakin tertinggal lagi seiring dengan perkembangan perkebunan di sisi barat sungai Tjiliwong. Interchange yang baru di Parong dan Pasar Minggoe menjadi pusat keramaian yang baru, tempatnya strategis dan kedua tempat ini terhubung. Akibatnya jalan kuno yang melalui Tandjoeng Barat, Lenteng Agoeng, Srengseng, Pondok Tjina, Depok, Pondok Terong, Bojong Gede dan Tjiliboet semakin terbenam dan sepi. Jalan arteri sudah bergeser dari Buitenzorg ke Parong; dari Parong ke Pasar Minggi dan dari Parong ke Tangerang.

Load disqus comments

0 komentar