Biografi SAFFAR - Biografi dan Sejarah

Our site moved here Sejarah dan Biografi

Friday, September 22, 2017

Biografi SAFFAR

  Biografi SAFFAR   SAFFAR adalah band Death Metal yang berasal dari Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat - Indonesia. Jika mendengar deathmetal fikiran kebanyakan orang akam identik dengan kebrutalan dan kematian, tapi itu semua gugur begitu saja jika kita menyimak deathmetal yang diusung dan disajikan band satu ini. Kecuali font band mereka yang memang didesain untuk merepresentasikan musik  SAFFAR, selebihnya mereka menyuguhkan warna musik berbeda dibanding band deathmetal pada umumnya.  Simak empat lagu mereka yang terangkum dalam CD promo yang penjualannya disatupaketkan dengan rilisan kaus Fuck Your Orde Seclorum. Musik yang mereka sajikan memang tak ada beda dengan deathmetal yang banyak dimainkan band-band asal Ujungberung, tempat asal mereka tumbuh. Namun, dari segi lirik, lagu-lagu Saffar sangat kental bernapaskan Islam. Mulai dari singel pertama Gorok Zionis hingga Samiri Jilat Bumi, SAFFAR telah memposisikan diri sebagai band deathmetal dengan ideologi yang berbeda. Mereka sadar pemilihan jalan ideologi seperti itu membawa konsekuensi tertentu. Salah satunya tudingan ideologi musik yang diusung SAFFAR telah melenceng karena tak mengumbar kebrutalan secara total. “Tapi, kami anggap tudingan seperti ini sebagai hal wajar. Kami yakin setiap pilihan memili konsekuensi masing-masing,” tutur Ramon, basis SAFFAR.  Namun pada akhirnya, kualitas musiklah yang

SAFFAR adalah band Death Metal yang berasal dari Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat - Indonesia. Jika mendengar deathmetal fikiran kebanyakan orang akam identik dengan kebrutalan dan kematian, tapi itu semua gugur begitu saja jika kita menyimak deathmetal yang diusung dan disajikan band satu ini. Kecuali font band mereka yang memang didesain untuk merepresentasikan musik 
SAFFAR, selebihnya mereka menyuguhkan warna musik berbeda dibanding band deathmetal pada umumnya.
Simak empat lagu mereka yang terangkum dalam CD promo yang penjualannya disatupaketkan dengan rilisan kaus Fuck Your Orde Seclorum. Musik yang mereka sajikan memang tak ada beda dengan deathmetal yang banyak dimainkan band-band asal Ujungberung, tempat asal mereka tumbuh. Namun, dari segi lirik, lagu-lagu Saffar sangat kental bernapaskan Islam. Mulai dari singel pertama Gorok Zionis hingga Samiri Jilat Bumi, SAFFAR telah memposisikan diri sebagai band deathmetal dengan ideologi yang berbeda. Mereka sadar pemilihan jalan ideologi seperti itu membawa konsekuensi tertentu. Salah satunya tudingan ideologi musik yang diusung SAFFAR telah melenceng karena tak mengumbar kebrutalan secara total. “Tapi, kami anggap tudingan seperti ini sebagai hal wajar. Kami yakin setiap pilihan memili konsekuensi masing-masing,” tutur Ramon, basis SAFFAR.

Namun pada akhirnya, kualitas musiklah yang banyak menentukan sudut pandang khalayak. Seperti band lain yang lahir di Ujungbronx, SAFFAR menyuguhkan deathmetal yang tipikal. Hanya saja mereka membalutnya dengan energi yang lebih frontal. Daya tarik utama SAFFAR, terutama di atas panggung, terletak pada permainan bas Ramon. Ia memainkan bas enam dawai dengan teknik totally taping. Gaya permainan bass yang mungkin hanya ada satu di antara ratusan band deathmetal yang lahir dan besar di kota kembang. Tak heran bila permainan Ramon banyak mengundak decak kagum yang melihat. Salah satu pengakuan atas kualitas permainan bas Ramon datang dari Bleeding Corpse. Band deathmetal garda depan asal Ujungbronx ini sempat meminjam Ramon saat menggelar gigs di Medan, Mei 2011.

Embrio SAFFAR sendiri lahir ketika inisiatif Gilang a.k.a Acil dibuahi kesepakatan dari Miko, Rezi, dan Fariz, untuk menjalin konfigurasi sebuah band deathmetal. Konfigurasi itu menjadi lengkap ketika Andriz dan Garung turut bergabung. Namun, langkah SAFFAR sempat goyah ketika Miko memutuskan mengundurkan diri. Sementara Rezi fokus melanjutkan propaganda hidup bersama Auticed dan Fariz menempuh jalan hidup dengan menggarap proyek bernama Lumpur. Sedangkan Garung teguh mencurahkan konsentrasi buat Inquisisi. Beruntung, keluarnya tiga personel terse  tidak membuat Gilang dan Andriz kehabisan spirit untuk terus mengibarkan bendera SAFFAR. Sampai kemudian muncul sosok antitesis bernama Parjo.
Load disqus comments

0 komentar