Sejarah Panasonic Gobel Awards - Biografi dan Sejarah

Our site moved here Sejarah dan Biografi

Saturday, October 28, 2017

Sejarah Panasonic Gobel Awards

  Sejarah Panasonic Gobel Awards  Panasonic Awards sebuah anugerah yang konsisten menyelenggarakan acara tahunan bagi insan pertelevisian. Pemenang dipilih berdasar jajak pendapat yang dilakukan masyarakat. Ini adalah kerjasama PT Panasonic Gobel Indonesia dengan Tabloid Citra (Gramedia Grup). Kategori pemenangnya pun punya embel-embel terfavorit. Setiap pemenang di suatu tahun, adalah yang terpopuler dan tentu akan berganti di tahun-tahun selanjutnya. Alhasil, jika kita melihat daftar pemenang PA dari tahun ke tahun, itu artinya kita bisa melihat sejarah pertelevisian Indonesia.  Panasonic Awards diadakan pertama kali pada 1997 dengan jajak pendapat yang dilakukan di Tabloid Citra. Saat itu PA ditayangkan di Indosiar, kemudian sempat ditayangkan di semua stasiun TV Swasta. Namun, sekira sejak tahun 2009, tayangan ini ditayangkan di TV-TV MNC. Mengenai pemilihan nominasi, sejak tahun 2004, nominasi ditentukan dari survei Nielsen Media Research dan ditabulasi oleh Ernst & Young. Dulu pas jamannya SD, saya pernah nemuin kuesioner di halaman tabloid dan boleh memilih juga boleh tidak memilih beberapa poin nominasi. Kita juga bisa menulis pilihan sendiri yang tidak ada di jajaran opsi. Namun ketika SMS sudah menjadi gaya hidup, poling pun lebih dipublikasikan di televisi dan m Referensi  http://myakise.blogspot.co.id/2012/03/sejarah-panasonic-gobel-awards.html

Panasonic Awards sebuah anugerah yang konsisten menyelenggarakan acara tahunan bagi insan pertelevisian. Pemenang dipilih berdasar jajak pendapat yang dilakukan masyarakat. Ini adalah kerjasama PT Panasonic Gobel Indonesia dengan Tabloid Citra (Gramedia Grup). Kategori pemenangnya pun punya embel-embel terfavorit. Setiap pemenang di suatu tahun, adalah yang terpopuler dan tentu akan berganti di tahun-tahun selanjutnya. Alhasil, jika kita melihat daftar pemenang PA dari tahun ke tahun, itu artinya kita bisa melihat sejarah pertelevisian Indonesia.


Panasonic Awards diadakan pertama kali pada 1997 dengan jajak pendapat yang dilakukan di Tabloid Citra. Saat itu PA ditayangkan di Indosiar, kemudian sempat ditayangkan di semua stasiun TV Swasta. Namun, sekira sejak tahun 2009, tayangan ini ditayangkan di TV-TV MNC. Mengenai pemilihan nominasi, sejak tahun 2004, nominasi ditentukan dari survei Nielsen Media Research dan ditabulasi oleh Ernst & Young. Dulu pas jamannya SD, saya pernah nemuin kuesioner di halaman tabloid dan boleh memilih juga boleh tidak memilih beberapa poin nominasi. Kita juga bisa menulis pilihan sendiri yang tidak ada di jajaran opsi. Namun ketika SMS sudah menjadi gaya hidup, poling pun lebih dipublikasikan di televisi dan masyarakat mengirimkan pilihannya (boleh) dengan SMS premium. Kita yang masyarakat internet juga bisa memilih via poling gratis di internet. Artinya, proses pemilihan seperti ini cukup relevan dan jujur.

Jadi agak aneh kalau masih saja ada yang berpikir kalau PA tebang pilih. Kalau urusan acara panggung setelah ditayangkan di MNC sih saya setuju. Kalau tayangan itu dibuat sedemikian rupa agar berjalan dengan durasi amat panjang dengan durasi iklan yang cukup besar. Hal ini menambah kas untuk TV atau pemilik PA bersangkutan. Yeah, namanya juga TV, penuh dengan aroma bisnis. Jadi agak susah kalau harus membayangkan acara penganugerahan kita kembali ke tahun 90-an yang serba singkat dan sesuai durasi seperti Anugerah Musik Indonesia, Festival Sinetron Indonesia, atau Malam Final Karya Cipta Video Musik Indonesia. Pemilihan PGA yang beberapa tahun terakhir juga menggunakan sistem poling internet juga hal yang patut diapresiasi (selain pemungutan pake SMS premium).


Tetap Melenggang


Sebagai wujud apresiasi murni terhadap insan pertelevisian nasional, PGA terus melakukan aktivitas tahunannya (kecuali tahun 2008, PGA/PA tidak diadakan). Ketika penganugerahan lain gugur satu per satu (contohnya Clear Top 10 Awards, MTV Indonesia Movie Awards, dsj), PGA konsisten melakukan ‘acara mulianya’ dengan dua keuntungan yang jelas terkasat mata. Satu kepentingan apresiasi, dua kepentingan bisnis.

Para pemenang pun selalu bangga menerima piala PGA yang mirip Oscar bersayap ini. Namun tampaknya, kita enggak akan lagi melihat pelaku TV di Trans TV atau Trans 7 yang membanggakan piala PGA itu lagi jika tayangan bersangkutan menang. Entah sampai kapan sepasang kakak adik angkat ini (karena awalnya Trans 7 adalah TV 7) akan berpagutan mesra dengan Abang PGA. Namun PGA harus tetap berjalan tanpa atau adanya dukungan stasiun TV lain. PGA tetap memasukkan acara-acara dari stasiun TV yang memboikotnya. Sebab memang bertujuan untuk mengapresiasi, bukan aksi infantil yang enggak jelas.

Yeah, menurut saya, keputusan pihak Trans Corps itu sangat disayangkan -sekaligus menggelikan. Bisa jadi punya unsur arogan. Dikutip dari kapanlagi.com, Head of Marketing Public Relations Trans TV berkata pada 28 Februari 2012 mengenai hal ini, “”Memang untuk tahun ini, saya sebagai wakil Trans TV, kita semua udah fix kalau untuk Panasonic Awards tidak akan ikut sebagai peserta walaupun ada acara kita yang masuk nominasi. Jadi ini karena lebih kepada proporsi penayangan dari sisi on air. Kita lihat teman-teman dari Trans Corp kurang mendapatkan proporsi seimbang pada saat nominasinya itu diumumkan.”

Nah, kalau memang dirasa kurang adil, tirulah SCTV yang sempat-sempatnya bikin acara awards sendiri dengan nominator tayangan ’sendiri’. Atau cukup berlaku dewasa seperti halnya stasiun TV lain yang menganggap kalau PGA adalah ’suplemen’ dan penganugerahan yang lumrah. Karena konon kesuksesan sebuah program TV itu dinilai dari seberapa diterima acara itu oleh masyarakat.

Tapi moga PGA sekarang bisa apa yang dinamakan beberapa pihak dengan sebutan fair. ketika pemenang yang diumumkan secara on air adalah pemenang yang tidak hanya datang dari RCTI atau MNC misalnya, tapi pemenang dari stasiun TV lain. Meski logikanya, mungkin MNC ogah, promosiin acara orang.

Referensi


http://myakise.blogspot.co.id/2012/03/sejarah-panasonic-gobel-awards.html
Load disqus comments

0 komentar