Sejarah Telaga Warna - Biografi dan Sejarah

Our site moved here Sejarah dan Biografi

Saturday, October 14, 2017

Sejarah Telaga Warna

  Sejarah Talaga Warna     Keindahannya tak cukup diungkap kata-kata. Inilah danau yang luar biasa indah. Dikitari hutan yang rimbun dan alami. Letaknya di kompleks Gunung Megamendung, berbatasan antara Bogor dan Cianjur. Dibalik itu, ternyata Talaga Warna menyembunyikan sejarah yang nyaris luput dari perhatian.  Sejak lama Talaga Warna menjadi obyek wisata andalan kabupaten Bogor. Memang, pesona alamnya yang wah, sanggup membuat decak kagum pengunjung atau wisatawan. Tiap hari, ada saja yang mengunjungi telaga ini. Banyak daya tarik danau yang selalu menyedot wisatawan domestic dan manca ini. Salah satunya adalah fenomena alam yang jarang ditemui di tempat lain. Secara administratif, telaga ini masuk dalam wilayah konservasi Bogor, tepatnya di Desa Tugu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, atau kawasan yang terkenal dengan sebutan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopuncur).   Bila ditilik seksama, air yang menggenangi telaga ini kerap berubah warna. Konon, ada tujuh warna yang pada waktu-waktu tertentu tampil bergantian. Tentu saja ini bukan gejala alam biasa. Agaknya itulah sebabnya mengapa telaga ini dinamakan Talaga Warna. Selain itu, masih banyak fenomena lain yang menjadi daya tarik lain danau mungil ini. Seperti kisah tentang bekas Kerajaan Kutatanggeuhan yang pusatnya ber  Referensi  http://ekorisanto.blogspot.co.id/2009/07/asal-usul-talaga-warna.html

Keindahannya tak cukup diungkap kata-kata. Inilah danau yang luar biasa indah. Dikitari hutan yang rimbun dan alami. Letaknya di kompleks Gunung Megamendung, berbatasan antara Bogor dan Cianjur. Dibalik itu, ternyata Talaga Warna menyembunyikan sejarah yang nyaris luput dari perhatian.  Sejak lama Talaga Warna menjadi obyek wisata andalan kabupaten Bogor. Memang, pesona alamnya yang wah, sanggup membuat decak kagum pengunjung atau wisatawan. Tiap hari, ada saja yang mengunjungi telaga ini. Banyak daya tarik danau yang selalu menyedot wisatawan domestic dan manca ini. Salah satunya adalah fenomena alam yang jarang ditemui di tempat lain. Secara administratif, telaga ini masuk dalam wilayah konservasi Bogor, tepatnya di Desa Tugu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, atau kawasan yang terkenal dengan sebutan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopuncur).

Bila ditilik seksama, air yang menggenangi telaga ini kerap berubah warna. Konon, ada tujuh warna yang pada waktu-waktu tertentu tampil bergantian. Tentu saja ini bukan gejala alam biasa. Agaknya itulah sebabnya mengapa telaga ini dinamakan Talaga Warna. Selain itu, masih banyak fenomena lain yang menjadi daya tarik lain danau mungil ini. Seperti kisah tentang bekas Kerajaan Kutatanggeuhan yang pusatnya berada di dasar Talaga Warna.


Putri Ayu


Ada sesuatu yang lain terjadi di sini. Sesuatu yang tersembunyi dibalik keindahan fisik. Sahdi, petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah III Bogor yang mengelola perlindungan dan pelestarian alam flora dan fauna cagar alam Telaga Warna, menuturkan hal itu. “Ada cerita menarik mengapa telaga ini disebut Telaga Warna,” ungkap Sahdi kepada penulis.

Dahulu, Sahdi mengawali ceritanya, Telaga Warna adalah patilasan atau peninggalan Kerajaan Kutatanggeuhan. Yakni sebuah kerajaan yang berpusat di lereng Gunung Lemo, Komplek Gunung Megamendung. Kerajaan Kutatanggeuhan dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Prabu Suarnalaya dengan permaisurinya bernama Purbamanah. Setelah sekian lama membina rumah tangga, sang raja tak kunjung dikarunia seorang anakpun. Padahal, segala upaya sudah dilakukan untuk mendapatkan keturunan. Sampai-sampai para petinggi dan penasehat kerajaan menyarankan agar Sang Prabu memungut seorang anak sebagai penerus kerajaan, lalu mengangkatnya sebagai Putera Mahkota. Sang Prabu menolak saran itu. Ia menginginkan keturunan asli dari Sang Permaisuri.

Maka beliau memutuskan untuk bertapa, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar mendapatkan keturunan dari Sang Permaisuri. Berangkatlah dia menuju Gunung Megamendung. Setelah sekian waktu bertapa, akhirnya Sang Prabu mendapat wangsit yang isinya berupa saran agar Sang Prabu memungut seorang anak angkat, sama dengan saran dari para penasehat kerajaan. Namun lagi-lagi Sang Prabu tetap pada pendiriannya. Ia ingin mendapat anak yang keluar dari rahim permaisuri. Sebab anak angkat berbeda dengan anak sendiri. Maka dengan penuh keyakinan dan tanpa putus asa, beliau melanjutkan semadinya dengan khusuk, seraya memohon Sang Maha Kuasa memberikan anak asli dari Sang Permaisurinya. Akhirnya suara gaib terdengar kembali, menjawab keinginan keras Sang Prabu. “Jika begitu keinginanmu, pulanglah engkau,” tutur suara gaib itu.

Mendapat wangsit demikian, Sang Prabu menuruti. Hingga beberapa bulan kemudian Sang Permaisuri positif hamil. Kenyataan itu disambut suka cita Sang Prabu, dan seterusnya tibalah saat sang bayi lahir ke dunia dengan selamat dan sehat. Bayi mungil berkelamin perempuan itu lantas diberi nama Nyi Ajeng Gilang Rinukmi, dan nama lainnya Putri Ayu Kencana Ungu. Sebagai rasa ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa, Kerajaan Kutatanggeuhan mengelar pesta tujuh hari tujuh malam dengan sangat meriah, bahkan super mewah. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, waktu terus berputar. Sang Putri tumbuh menjadi remaja yang cantik rupawan. Kecantikannya tiada tara. Banyak pemuda berdecak mengagumi kemolekan sang putri. Raja dan kerabat istana amat menyayangi putrid semata wayang itu.

Hingga tiba usia tujuh belas, Sang Prabu merencanakan pesta ulang tahun yang meriah. Undangan dikirim ke seluruh pelosok negeri, termasuk sahabat dari kerajaan lain. Diundanglah seorang empu yang ahli membuat kalung. Kalung yang terbuat dari emas, perak dan intan berlian itu dipersembahkan buat Sang Putri sebagai kado ulang tahun. Kalung itu melambangkan tanaman, emas perak melambangkan daun-daunan, intan permata melambangkan buah dan bunga-bungaan. Saking meriahnya pesta ulang tahun Nyi Putri Ayu, warga kerajaan Kutatanggeuhan khususnya, dan sahabat-sahabat sang Prabu, berbondong-bondong memberikan cindera mata sebagai tanda kasih sayang kepada Sang Putri. Cindera mata berupa emas, perak, serta intan berlian. Harta pemberian itu terkumpul demikian banyak. Lalu Sang Prabu memerintah penasehatnya untuk menyimpannya buat kepentingan rakyat.

Referensi

http://ekorisanto.blogspot.co.id/2009/07/asal-usul-talaga-warna.html
Load disqus comments

0 komentar